Kesehatan

Waspada! Parasetamol Bisa Tingkatkan Risiko ADHD pada Anak

Parasetamol sering kali menjadi pilihan utama bagi ibu hamil untuk meredakan demam dan nyeri. Meskipun obat ini dianggap sebagai obat yang aman, sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa konsumsi parasetamol selama kehamilan dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan saraf pada anak, terutama Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan autisme. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan para ahli kesehatan mengenai penggunaan parasetamol oleh ibu hamil.

Sebuah laporan dari medicaldaily.com mengindikasikan bahwa terdapat korelasi signifikan antara konsumsi parasetamol saat hamil dengan peningkatan risiko ADHD dan gangguan spektrum autisme (ASD) pada anak. Penelitian tersebut menyoroti bahwa risiko ini semakin meningkat bagi ibu yang mengonsumsi parasetamol selama lebih dari 28 hari selama kehamilan, khususnya pada trimester ketiga ketika perkembangan otak janin sedang berlangsung pesat.

Beberapa data yang penting untuk dicatat adalah:

  • Peningkatan Risiko: Penggunaan parasetamol selama kehamilan dapat meningkatkan risiko ADHD sebesar 34% dan autisme sebesar 19%.
  • Periode Risiko Tinggi: Trimester ketiga kehamilan menjadi periode yang paling berisiko karena merupakan fase kritis dalam perkembangan otak janin.
  • Faktor Pendukung: Meskipun ada hubungan antara parasetamol dan peningkatan risiko gangguan perkembangan, faktor lain seperti riwayat kesehatan ibu dan penyakit lain yang mendasari juga berperan penting dalam hasil penelitian ini.

Seiring dengan itu, lembaga medis mengingatkan pentingnya pengawasan dan konsultasi sebelum ibu hamil memutuskan untuk mengonsumsi parasetamol. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu meminimalkan risiko yang mungkin timbul akibat penggunaan obat tersebut. Meskipun parasetamol sudah lama dianggap sebagai pilihan yang aman untuk meredakan gejala demam dan nyeri, pertimbangan risiko yang disertai dengan informasi yang akurat harus menjadi hal utama dalam setiap keputusan medis selama kehamilan.

Dalam hal ini, ibu hamil disarankan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter atau tenaga medis lainnya sebelum mengonsumsi parasetamol atau obat lainnya. Selain itu, penting bagi mereka untuk memahami bahwa meskipun ada potensi efek negatif dari penggunaan parasetamol, tiap individu mungkin memiliki respons yang berbeda, tergantung pada berbagai faktor kesehatan pribadi.

Perhatian ekstra perlu diberikan kepada obat-obatan yang dikonsumsi selama kehamilan, serta risiko jangka panjang bagi perkembangan anak. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bersama bagi ibu, dokter, serta tenaga kesehatan untuk berdiskusi dan menjelaskan kemungkinan risiko yang berkaitan dengan penggunaan parasetamol.

Dalam konteks ini, kesadaran akan penggunaan parasetamol dan perlunya tindakan pencegahan sangatlah penting. Para orang tua dan calon orang tua didorong untuk lebih aktif mencari informasi dan menjaga komunikasi yang baik dengan dokter guna memastikan kesehatan ibu dan anak tetap terjaga dengan baik. Penggunaan obat selama kehamilan harus dilakukan dengan pemahaman yang mendalam tentang manfaat dan risikonya, serta berpegang teguh pada prinsip prinsip medis yang berlandaskan bukti.

Dengan demikian, penting bagi semua pihak untuk bersama-sama mencegah risiko yang dapat memengaruhi kesehatan jangka panjang anak yang akan lahir, serta memastikan perjalanan kehamilan yang sehat dan aman.

Hendrawan adalah penulis di situs spadanews.id. Spada News adalah portal berita yang menghadirkan berbagai informasi terbaru lintas kategori dengan gaya penyajian yang sederhana, akurat, cepat, dan terpercaya.

Berita Terkait

Back to top button