Bisnis

Wall Street Sorot Angka Kunci di Panggilan Keuangan Nvidia

Nvidia, raksasa teknologi yang dikenal dengan produk chip grafisnya, telah berbagi hasil kuartal keempat yang mengejutkan. Meskipun kinerja perusahaan dalam hal pendapatan memuaskan, satu aspek yang menjadi perhatian utama bagi analis Wall Street adalah proyeksi margin kotor yang disampaikan selama panggilan analisis. Margin kotor, yang merupakan ukuran penting dalam mengukur profitabilitas, menjadi topik hangat ketika Nvidia memperkirakan margin kotor GAAP dan non-GAAP untuk kuartal saat ini sebesar 70,6% dan 71,0%, dengan variasi sekitar 50 basis poin.

Dalam panggilan yang diadakan Rabu lalu, CFO Nvidia, Colette Kress, mengungkapkan bahwa perusahaan memperkirakan margin kotor akan berada di angka "rendah 70-an" untuk kuartal ini. Hal ini dipicu oleh meningkatnya biaya terkait percepatan produksi chip dan sistem Blackwell, yang merupakan arsitektur GPU generasi selanjutnya dari Nvidia yang dirancang untuk chip AI.

Beberapa poin penting yang diangkat selama panggilan tersebut antara lain:

  1. Proyeksi Margin Kotor: Nvidia memprediksi bahwa setelah produksi penuh Blackwell, margin kotor dapat kembali ke kisaran "tengah 70-an" menjelang akhir tahun fiskal ini.

  2. Kenaikan Biaya Produksi: Produksi Blackwell yang dipercepat menyebabkan peningkatan biaya, yang berkontribusi terhadap proyeksi margin yang lebih rendah untuk kuartal ini. Kress menekankan pentingnya meningkatkan efisiensi dan menurunkan biaya setelah produksi stabil.

  3. Pertanyaan Analis: Sejumlah analis mengajukan pertanyaan mengenai keyakinan Nvidia terhadap pertumbuhan margin kotor di tengah ketidakpastian, terutama terkait dampak tarif yang dapat memengaruhi industri semikonduktor. Kress membalas bahwa bentuk biaya yang terkait dengan Blackwell cukup kompleks dan ada banyak peluang untuk peningkatan.

  4. Reaksi Pasar: Setelah hasil pendapatan dirilis, saham Nvidia mengalami perdagangan volatil, bahkan sempat turun hingga 2% sebelum stabil setelah komentar Kress yang menyatakan permintaan untuk produk Blackwell "melampaui" ekspektasi. Saham Nvidia pun mengalami penurunan lebih dari 4% pada pertengahan hari Kamis.

Nvidia mencatat bahwa transisi dari chip generasi sebelumnya, Hopper, ke Blackwell tidak berjalan mulus. CEO Nvidia, Jensen Huang, menjelaskan adanya "gangguan awal" dalam produksi yang membuat transisi ini menjadi suatu tantangan. Dalam percakapan tersebut, Kress menekankan bahwa begitu produksi Blackwell stabil, mereka akan mulai menjajaki banyak faktor yang dapat berkontribusi untuk meningkatkan margin kotor secara lebih signifikan.

Meskipun ada ketidakpastian seputar tarif, terutama menyusul ancaman dari pemerintahan sebelumnya yang mungkin memberlakukan peraturan yang lebih ketat terhadap ekspor chip, Kress menekankan bahwa Nvidia akan mengikuti semua pedoman dan peraturan yang berlaku. Hal ini termasuk kepatuhan terhadap kontrol ekspor yang dapat berdampak pada kemampuan perusahaan untuk menjual chip canggihnya ke Tiongkok.

Produksi chip Blackwell telah mencapai skala penuh, menghasilkan pendapatan sebesar $11 miliar pada kuartal terakhir, menandakan bahwa ini merupakan ramp produk tercepat dalam sejarah perusahaan. Dengan berfokus pada efisiensi produksi dan mengatasi tantangan biaya, Nvidia berharap untuk menjaga daya saingnya di pasar yang semakin kompetitif.

Meskipun tantangan ke depan terkait biaya dan kebijakan pemerintah, Nvidia tetap optimis dengan potensi pertumbuhan jangka panjang, khususnya seiring meningkatnya permintaan untuk teknologi berbasis AI. Dalam menghadapi dinamika industri yang terus berubah, perhatian dan ekspektasi analis Wall Street terhadap margin kotor Nvidia tetap menjadi indikator kunci yang akan diperhatikan di masa mendatang.

Hendrawan adalah penulis di situs spadanews.id. Spada News adalah portal berita yang menghadirkan berbagai informasi terbaru lintas kategori dengan gaya penyajian yang sederhana, akurat, cepat, dan terpercaya.

Berita Terkait

Back to top button