Varian baru virus flu burung yang baru-baru ini terdeteksi pada sapi perah di Nevada menunjukkan tanda-tanda adaptasi terhadap mamalia, termasuk manusia. Menurut laporan teknis dari Layanan Inspeksi Kesehatan Hewan dan Tumbuhan Departemen Pertanian AS (USDA), varian ini mengalami perubahan genetik yang diyakini memudahkan virus melakukan replikasi di dalam sel mamalia.
Belum dapat dipastikan apakah virus ini menimbulkan ancaman yang lebih besar bagi manusia. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyatakan bahwa risiko H5N1 untuk publik masih rendah, meskipun orang yang bekerja di peternakan atau memiliki unggas di halaman belakang berada pada risiko yang lebih tinggi. Data penting ini datang setelah seorang pekerja di peternakan susu Nevada dinyatakan positif terinfeksi H5N1, yang menjadi infeksi manusia pertama yang teridentifikasi di negara bagian tersebut. Pekerja itu mengalami gejala seperti mata merah dan meradang, sebuah kondisi yang dikenal sebagai konjungtivitis.
Para ilmuwan sedang memantau kasus baru di Nevada dengan cermat, karena urutan gen dari sapi yang terinfeksi menunjukkan bahwa mereka adalah subtipe virus H5N1 D1.1, yang telah terkait dengan dua infeksi manusia parah di Amerika Utara, termasuk satu kematian. Saya sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai penularan varian ini ke sapi-sapi di Nevada, dengan memperhatikan adanya kematian burung liar yang besar di dekat peternakan sebelum sapi-sapi tersebut jatuh sakit. Ini memberikan petunjuk bahwa sapi-sapi tersebut mungkin terpapar virus melalui burung yang terinfeksi atau kotorannya.
Penting untuk dicatat bahwa mayoritas infeksi flu burung pada sapi perah di AS sebelumnya adalah varian B3.13, yang dikenal sebagai “clade sapi”. Genom varian D1.1 menunjukkan mutasi yang memungkinkan virus dalam mengcopy dirinya sendiri secara lebih efisien di dalam sel mamalia. Mutasi ini belum terlihat pada infeksi D1.1 lainnya dalam burung liar atau unggas.
Menurut Dr. Seema Lakdawala, seorang ahli mikrobiologi dan imunologi di Universitas Emory, mutasi ini memberikan kemampuan kepada virus untuk melakukan replikasi yang lebih baik, yang meningkatkan ancaman bagi manusia yang terpapar sapi tersebut.
Virus H5N1 dapat mengalami mutasi melalui dua cara: “drift” dan “shift”. Mutasi “drift” adalah perubahan kecil dalam genom yang biasanya tak berdampak besar pada virus. Sebaliknya, “shift” adalah perubahan yang lebih besar dan bisa menciptakan virus hibrida dengan karakteristik yang sangat berbeda. Varian D1.1, yang dideteksi pertama kali pada burung liar pada September 2024, adalah hasil dari “shift”.
Beberapa kasus serius akibat virus ini sedang diteliti; salah satunya melibatkan seorang remaja di British Columbia yang mengalami gagal organ setelah terinfeksi. Peneliti menemukan bahwa virus yang menginfeksinya mulai menunjukkan tanda-tanda mutasi yang membuatnya lebih efisien dalam menginfeksi sel manusia. Selain itu, seorang penderita yang berusia lebih dari 65 tahun di Louisiana juga mengalami penyakit serius akibat varian D1.1 setelah terpapar burung yang sakit, yang menjadi kematian pertama akibat flu burung di negara tersebut.
Para peneliti saat ini berusaha mencari tahu mengapa infeksi D1.1 dikaitkan dengan dua infeksi manusia yang parah ini. Beberapa teori menyebutkan bahwa perubahan pada bagian N virus dapat membantu menghindari kekebalan yang dimiliki manusia terhadap virus flu musiman. Ini meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi yang lebih serius.
Dengan mutasi dan adaptasi yang terjadi, fokus penelitian saat ini adalah untuk memahami kecenderungan virus ini dalam menginfeksi mamalia, termasuk manusia. Pengetahuan lebih dalam mengenai virus ini penting untuk mencegah ancaman potensial bagi kesehatan masyarakat di masa depan.