
Uber Technologies, Inc. mengajukan gugatan terhadap pesaingnya dalam layanan pengantaran makanan, DoorDash, pada hari Jumat dengan menuduh DoorDash melakukan praktik bisnis yang anti-persaingan. Dalam pengaduannya, Uber mengklaim bahwa DoorDash telah berusaha menaikkan biaya layanan bagi restoran dan pelanggan, serta menciptakan skenario yang sulit bagi restoran untuk bekerja sama dengan beberapa layanan pengantaran sekaligus.
Uber menuduh bahwa DoorDash, yang merupakan penyedia layanan pengantaran restoran terbesar di Amerika Serikat, telah merancang dan terlibat dalam skema ilegal untuk menekan kompetisi dengan Uber Eats. Gugatan ini menyatakan bahwa DoorDash memungkinkan diri mereka untuk membebankan biaya yang lebih tinggi kepada pelanggan dengan menawarkan layanan yang lebih rendah kualitasnya. Uber mengutip bahwa banyak restoran merasa tertekan dan tidak memiliki pilihan selain menggunakan DoorDash, yang berpotensi melanggar praktik persaingan yang sehat.
Dalam keluhan tersebut, Uber mencatat bahwa restoran hanya dapat beroperasi di pasar pengantaran dengan biaya yang semakin meningkat dan merasa terpaksa untuk menerima syarat dari DoorDash. Menurut laporan, beberapa pemilik restoran mengungkapkan bahwa DoorDash telah bertindak layaknya "monopolis", dan banyak di antara mereka merasa seperti berada dalam posisi terjepit dengan tidak ada pilihan berarti untuk melawan kekuatan DoorDash.
Gugatan ini juga mengklaim bahwa perilaku anti-persaingan dari DoorDash telah mengakibatkan kerugian jutaan dolar bagi Uber dalam hal pendapatan yang hilang dari restoran yang memutuskan untuk menghentikan kemitraan mereka, serta peluang pendapatan yang belum terealisasikan. Uber menginginkan ganti rugi yang tidak ditentukan dan berusaha memaksa DoorDash untuk merubah praktik bisnis mereka yang dianggap merugikan.
Sementara itu, juru bicara DoorDash membantah semua tuduhan dari Uber, menyatakan bahwa klaim yang diajukan tidak memiliki dasar dan merupakan hasil dari ketidakmampuan Uber untuk menawarkan alternatif yang kompetitif bagi pedagang, konsumen, dan pengantar makanan. DoorDash, yang saat ini menguasai 62,7% pasar pengantaran makanan secara nasional, telah mendapatkan reputasi positif di kalangan pelanggan, berdasarkan data dari laporan yang menunjukkan mereka memiliki tingkat kepuasan pelanggan yang lebih baik dibandingkan dengan pesaing lainnya.
Berikut adalah beberapa poin penting mengenai posisi pasar DoorDash dan Uber Eats:
Pangsa Pasar: DoorDash menguasai 62,7% pasar pengantaran makanan, diikuti oleh Uber Eats dengan 25% dan Grubhub dengan 6,2% (data dari Earnest Analytics).
Kepuasan Pelanggan: Laporan dari Intouch Insight menunjukkan DoorDash unggul dalam kepuasan pelanggan dan kecepatan pengantaran, dengan waktu pengantaran rata-rata 26 menit dan 24 detik, dibandingkan dengan 38 menit untuk Uber Eats dan 35 menit untuk Grubhub.
Kenaikan Permintaan: Meskipun kritik atas biaya layanan pengantaran tetap ada, DoorDash melaporkan kenaikan pesanan sebesar 18% tahun ke tahun di kuartal ketiga 2024, dengan pendapatan meningkat 25% menjadi $2,7 miliar.
- Dampak pada Restoran: Restoran mengalami tekanan karena strategi DoorDash yang dianggap membatasi pilihan mereka, yang menyebabkan pengurangan marjin keuntungan.
Sarfraz Maredia, kepala operasional pengantaran Uber untuk kawasan Amerika, menjelaskan bahwa banyak restoran mengeluhkan tindakan DoorDash yang membatasi pilihan mereka, dan diharapkan gugatan ini dapat mengakhiri praktik-praktik yang dianggap tidak adil. Menurutnya, restoran berhak memilih penyedia layanan pengantaran terbaik tanpa merasa terancam atau menghadapi konsekuensi negatif.
Kasus ini menjadi titik perhatian dalam industri layanan pengantaran makanan yang semakin kompetitif, di mana praktik bisnis yang transparan dan adil diperlukan untuk menjaga keberlanjutan dan pertumbuhan pasar.