
SANTORINI, Yunani – Sejumlah pulau di Yunani terpaksa menutup sekolah-sekolah mereka pada hari Selasa setelah terjadi ratusan gempa bumi yang mengguncang Laut Aegean. Namun, di tengah kekacauan ini, sekelompok wisatawan nekat menikmati keindahan Santorini tanpa hiruk-pikuk keramaian. Meskipun ribuan warga dan pekerja musiman telah meninggalkan kepulauan Cycladic akibat gempa yang mencapai magnitude 5 tersebut, beberapa wisatawan tetap memutuskan untuk bertahan.
Sejak akhir pekan lalu, gempa bumi yang terjadi di kawasan vulkanik ini telah menyebabkan sejumlah retakan di bangunan-bangunan tua. Belum ada laporan mengenai korban jiwa. Pada hari Selasa, jumlah pulau yang menutup sekolah meningkat menjadi 13 dari sebelumnya hanya empat. Santorini juga telah membatalkan acara publik, membatasi akses ke pulau, serta melarang pekerjaan konstruksi di area tertentu.
Kepala Organisasi Perencanaan dan Perlindungan Gempa Bumi negara, Efthimios Lekkas, menyampaikan bahwa pusat gempa di Laut Aegean bergerak ke utara, menjauh dari Santorini. Ia menekankan bahwa tidak ada hubungan antara gempa tersebut dengan aktivitas gunung berapi di daerah tersebut. “Ini mungkin akan berlangsung beberapa hari atau beberapa minggu. Kami tidak dapat memprediksi perkembangan dari urutan ini,” jelas Lekkas dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah.
Masyarakat Santorini merasakan dampak dari situasi ini. Di kota utama Santorini, Fira, jalan-jalan yang biasanya ramai kini tampak sepi, sebuah pemandangan yang jarang terjadi bahkan di luar musim ramai. Hanya terdapat kelompok wisata kecil yang terlihat, mayoritas di antaranya berasal dari negara-negara Asia.
Joseph Liu, seorang wisatawan dari Guangzhou, China, mengungkapkan bahwa ia telah lama ingin mengunjungi Santorini setelah melihatnya di sebuah dokumenter. Liu bersama keluarga dan anggota grup tur lainnya menikmati pemandangan dari sebuah balkon yang biasanya digunakan untuk resepsi pernikahan mewah. “Tempat ini luar biasa, sangat indah. Persis seperti yang saya lihat dalam program: misteri, pemandangan,” kata Liu.
Sementara itu, Panagiotis Hatzigeorgiou, seorang pensiunan petugas polisi yang telah tinggal di Santorini selama lebih dari 30 tahun, memutuskan untuk tetap tinggal meski mendapat tawaran untuk menginap bersama kerabat di Athena. “Warga tua sudah terbiasa dengan gempa bumi… Tapi kali ini berbeda. Tidak sama rasanya memiliki gempa setiap 2-3 menit. Hal terpenting adalah tidak panik,” ujar Hatzigeorgiou sambil tertawa. “Sekarang kami bisa mendengarkan musik sendirian dan menikmati kopi sendirian.”
Dalam upaya merespons situasi ini, pejabat pemerintah di Athena mengadakan pertemuan harian dengan pejabat pulau untuk melakukan penilaian dan perencanaan. Di tengah ketidakpastian ini, Santorini—yang terkenal dengan keindahan alam dan arsitektur tradisionalnya—kini memberikan pengalaman unik bagi para wisatawan yang berani menghadapi tantangan.
Ferry dan operator penerbangan komersial juga menambah layanan untuk mengakomodasi perjalanan yang kembali ke daratan, menunjukkan betapa seriusnya dampak dari gempa ini terhadap kehidupan sehari-hari penduduk dan pelancong. Meski demikian, bagi sebagian wisatawan, momen tenang di Santorini mungkin justru menjadi kesempatan langka untuk menikmati keindahan pulau tanpa kerumunan—sesuatu yang jarang mereka alami di tempat yang biasanya dipenuhi pengunjung.
Dengan ketidakpastian yang menyelimuti situasi ini, keindahan Santorini tetap memikat hati. Para wisatawan dan warga lokal terus beradaptasi, sambil berharap akan segera kembali ke rutinitas mereka dan menikmati keindahan pulau yang ikonik ini.