Sebulan setelah dilantik kembali, Presiden Donald Trump menghadapi kenyataan yang berbeda dibandingkan dengan harapan investor yang melambung setelah pemilihannya. Awalnya, kemenangan Trump pada pemilu November lalu memicu gelombang optimisme yang besar, mendorong kenaikan harga saham, penguatan dolar, dan lonjakan aset kripto seperti Bitcoin. Namun dalam waktu satu bulan, banyak dari taruhan ini mulai mengalami penurunan.
S&P 500, yang sempat memecahkan rekor, kini justru tertinggal dari indeks saham Eropa, Tiongkok, dan Meksiko. Keputusan tarif yang agresif dari Trump, seperti yang diumumkan pada minggu ini, di mana ia mengancam akan mengenakan tarif sekitar 25% pada impor mobil, semikonduktor, dan obat-obatan, telah membuat sentimen investor menjadi semakin pesimis. Tarik ulur antara harapan dan ketakutan ini telah mendorong banyak investor untuk mengevaluasi ulang strategi mereka.
Berdasarkan survei dari para analis, ada lima aspek penting yang perlu diperhatikan terkait dampak kebijakan Trump dalam sebulan terakhir:
-
Kinerja Saham Kecil: Saham kecil, yang dianggap lebih terisolasi dari dampak tarif, awalnya menikmati keuntungan yang besar setelah pemilihan. Namun, meski sempat melonjak 5,8% pasca pemilihan, saat ini pertumbuhannya sangat terbatas, hanya sekitar 1% di atas penutupan 5 November.
-
Sektor Energi dan Keuangan: Sektor energi dalam indeks S&P 500 merosot kembali setelah lonjakan awal, sementara sektor keuangan justru mengalami kenaikan hingga 12%, berkat laporan laba yang solid dari bank. Namun, harapan untuk meningkatnya aktivitas penggabungan dan akuisisi tampak memudar di tengah regulasi yang lebih ketat.
-
Dolar AS yang Melemah: Dolar AS sempat menguat sekitar 4,5% setelah pemilu, tetapi kini telah mengalami penurunan sebesar 1,5%. Banyak trader percaya bahwa mereka sebelumnya terlalu optimis terhadap dampak tarif pada nilai tukar dolar.
-
Strategi Obligasi: Bunga obligasi yang lebih tinggi dan kurva hasil yang lebih curam menjadi taruhan awal. Namun, saat ini, pemerintah Trump mengindikasikan bahwa mereka akan mempertahankan penjualan obligasi pada level stabil, yang meredakan kekhawatiran tentang defisit federal dan berkontribusi pada penurunan imbal hasil obligasi jangka panjang.
- Kinerja Kripto dalam Ketidakpastian: Setelah pemilu, Bitcoin mengalami lonjakan 50% dan saat itu diperkirakan akan mencapai rekor tertinggi. Namun, harapan yang tidak terwujud akan penciptaan cadangan Bitcoin nasional dan berita negatif mengenai aset kripto telah mengguncang kepercayaan pasar, dengan nilai Bitcoin saat ini terpuruk di bawah $100,000.
Sikap pesimis investor ini dijelaskan oleh Eric Diton, presiden Wealth Alliance, yang mengatakan, "Ada optimisme yang berlebihan tanpa dipikirkan dengan matang." Hal ini jadi fakta bahwa banyak investor kini merasa kecewa dengan kinerja portofolio mereka yang tak sesuai harapan setelah kebijakan perdagangan Trump berpotensi menciptakan inflasi yang lebih cepat, sehingga menghalangi Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga lebih jauh.
Dengan beragam tantangan ini, dan ancaman yang terus berlanjut dari perang dagang serta ketidakpastian ekonomi global, arah investasi para trader mulai bergeser. Sementara itu, baik saham kecil maupun sektor-sektor yang diharapkan akan melesat di bawah kebijakan Trump, justru berjuang untuk memulih. Ketidakpastian ini menandai bahwa bulan pertama pemerintahan Trump yang baru ini merupakan peringatan bagi investor untuk melihat dengan lebih hati-hati mengenai dampak strategis dari kebijakan ekonomi yang berfokus pada kekuatan domestik.