Literasi

Trigger: Pengertian, Contoh, dan Penyebabnya yang Menarik!

Trigger, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “pemicu”, merujuk pada stimulus yang dapat mengaktifkan kembali ingatan-ingatan menyakitkan serta gejala tertentu. Istilah ini sering digunakan dalam konteks psikologi, khususnya berkaitan dengan trauma dan kondisi kesehatan mental. Ketika seseorang mengalami peristiwa traumatis, mereka dapat teringat kembali suara, bau, atau pemandangan yang terkait dengan pengalaman tersebut. Penting untuk memahami konsep trigger, beserta contoh dan penyebabnya, agar dapat membantu individu yang mengalami trauma untuk lebih mengenali dan mengatasi perasaan yang muncul.

Pengertian Trigger

Dalam dunia psikologi, trigger adalah suatu stimulus yang dapat menyebabkan ingatan atau emosi traumatis muncul kembali. Biasanya, pemicu ini berupa ingatan sensorik yang berhubungan dengan peristiwa traumatis yang pernah dialami, seperti suara tertentu, gambar, atau bau. Misalnya, veteran perang dengan gangguan stres pascatrauma (PTSD) mungkin merasa terpicu oleh suara kembang api yang mengingatkan mereka akan pengalaman di medan perang. Seseorang yang mengalami trauma mungkin merasakan kelompok emosi yang kuat ketika bertemu dengan keadaan yang mereka pahami sebagai pengingat akan luka masa lalu.

Selain itu, trigger juga bisa terjadi dalam konteks kesehatan mental lainnya, misalnya pada gangguan obsesif kompulsif (OCD) atau gangguan penggunaan zat. Pada individu dengan OCD, melihat benda tertentu bisa memicu rasa takut yang berlebihan. Dengan demikian, menjadi sangat penting untuk mengenali trigger pribadi agar individu dapat menghindari situasi yang mengganggu kesehatan mental mereka.

Bagaimana Trigger Terbentuk?

Proses terbentuknya trigger tidaklah sederhana. Penelitian menunjukkan bahwa rentetan pengalaman sensorik yang dialami ketika trauma terjadi disimpan dalam memori otak. Ketika individu berhadapan dengan stimulus serupa di masa depan, ingatan dan perasaan terkait trauma itu dapat muncul kembali. Berbagai faktor bisa mempengaruhi bagaimana sebuah peristiwa traumatis dapat membentuk trigger, termasuk karakteristik individu, pengalaman sebelumnya, dan konteks sosial budaya.

  • Ciri-ciri kepribadian individu dan sejarah sosiokultural
  • Karakteristik khusus dari peristiwa traumatis
  • Tahap perkembangan emosional individu
  • Makna yang diberikan individu pada trauma tersebut

Contoh Trigger

Trigger dapat bervariasi dari satu orang ke orang lain. Berikut adalah beberapa contoh trigger yang mungkin dialami seseorang:

  1. Liburan atau peringatan terkait trauma atau kehilangan
  2. Suara, pemandangan, atau aroma tertentu yang berhubungan dengan pengalaman traumatis
  3. Konflik, teriakan, atau suara keras
  4. Perlakuan tidak menyenangkan, seperti diejek atau dihina
  5. Kesepian atau penolakan dari orang lain
  6. Pengalaman pengabaian dalam hubungan interpersonal
  7. Putusnya hubungan emosional
  8. Bentuk kekerasan yang disaksikan dalam berita
  9. Pelecehan seksual atau sentuhan yang tidak diinginkan
  10. Penyakit fisik atau cedera yang dianggap berkaitan dengan trauma

Apa yang Dapat Dilakukan Jika ke-Trigger?

Sangat penting untuk mengetahui cara yang tepat untuk bereaksi saat trigger muncul. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengatasi pengalaman ke-trigger:

1. Latih Belas Kasih dan Penerimaan Diri

Saat merasa terpicu, penting untuk tidak menghakimi diri sendiri. Cobalah untuk memahami dari mana perasaan ini berasal dan berikan diri Anda keleluasaan untuk mengalami emosi tersebut. Dalam menghadapi situasi yang memicu, cobalah melihatnya dari perspektif yang berbeda.

2. Cobalah Bermeditasi

Latihan meditasi dapat membantu meredakan kecemasan yang muncul saat trigger terjadi. Dengan menarik napas dalam-dalam dan mengulangi mantra positif, Anda bisa mengingatkan diri bahwa saat ini Anda dalam kondisi aman. Penelitian menunjukkan bahwa praktik mindfulness dapat mengurangi kecemasan, depresi, dan stres.

Hal-Hal yang Berpotensi Menjadi Penyebab Trigger

Trauma memiliki hubungan erat dengan reaksi emosional yang kompleks. Banyak hal dapat memicu kembali pengalaman traumatis. Berikut adalah beberapa faktor pemicu yang mungkin dialami seseorang:

1. Situasi yang Mengundang Kecemasan

Situasi tertentu yang mengundang kecemasan berlebihan dapat menjadi trigger. Misalnya, seseorang yang terlibat dalam kecelakaan kendaraan mungkin merasa cemas ketika harus mengemudikan mobil kembali setelah kejadian tersebut.

2. Emosi Tertentu yang Berkaitan dengan Peristiwa Traumatis

Emosi negatif seperti perasaan ditinggalkan, dicurangi, atau sedih yang berkepanjangan dapat memicu pengalaman traumatis. Mengelola emosi ini sangatlah penting untuk mencegah terulangnya reaksi berlebihan terhadap situasi serupa.

3. Suara Tertentu yang Dapat Merangsang Ingatan Menyakitkan

Suara yang berkaitan dengan pengalaman traumatis, seperti sirene atau suara keras, dapat memicu perasaan tidak aman. Ketika mendengar suara ini, respon emosional bisa cukup intens, terutama bagi mereka yang pernah mengalami trauma terkait suara tersebut.

4. Benda atau Hal Lain yang Kamu Saksikan

Visual dari benda atau situasi tertentu dapat memicu kenangan buruk. Misalnya, melihat gambar yang memiliki konteks sama dengan pengalaman traumatis dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman.

5. Indera Penciuman

Indera penciuman sering kali terhubung dengan memori emosional. Aroma tertentu dapat membawa kembali perasaan atau kenangan yang menyakitkan, sehingga dianggap sebagai trigger. Aroma seperti parfum atau bau alkohol dapat menjadi pemicu bagi individu yang memiliki pengalaman traumatis.

Mengetahui dan mengenali trigger adalah langkah awal yang penting dalam proses penyembuhan. Pemahaman tentang trigger dapat membantu individu untuk menjadi lebih waspada dan memilih respons yang lebih sehat saat menghadapi situasi yang menantang. Dalam mengatasi trauma, dukungan dari lingkungan sosial dan profesional sangat berharga untuk membantu individu menyembuhkan luka emosionalnya.

Spada adalah penulis di situs spadanews.id. Spada News adalah portal berita yang menghadirkan berbagai informasi terbaru lintas kategori dengan gaya penyajian yang sederhana, akurat, cepat, dan terpercaya.

Berita Terkait

Back to top button