Bisnis

Saham Minyak Naik Seiring Investor Pertimbangkan Tarif Baru AS

Harga minyak naik tipis pada Senin (09/10) di tengah ketidakpastian yang ditimbulkan oleh ancaman tarif terbaru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam kebijakan perdagangan yang diusulkannya, Trump rencananya akan menerapkan tarif sebesar 25% pada semua impor baja dan aluminium ke AS, yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan permintaan energi.

Data menunjukkan bahwa kontrak minyak mentah Brent mengalami kenaikan sebesar 40 sen atau 0,5%, mencapai $75,06 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terangkat 38 sen atau 0,5%, dengan harga mencapai $71,38 per barel. Meskipun mengalami kenaikan, pasar minyak telah mencatat penurunan selama tiga minggu berturut-turut akibat kekhawatiran mengenai kemungkinan terjadinya perang dagang global.

Trump, yang telah mengumumkan tarif pada Kanada, Meksiko, dan China minggu lalu, belum lama ini juga mengisyaratkan bahwa kebijakan tersebut masih dapat mengalami perubahan. Dalam pandangannya, saat ini para investor tampaknya tidak terlalu merespons ancaman tarif yang bergerak maju, meski ada kemungkinan bahwa tindakan tarif dapat menjadi lebih lanjut di masa depan.

Analisis dari Tony Sycamore, seorang analis dari IG yang berbasis di Sydney, menunjukkan bahwa pasar telah menyadari bahwa berita mengenai tarif akan terus berdatangan dalam beberapa minggu dan bulan mendatang. “Ada kemungkinan yang sama untuk meninjau kembali atau bahkan meningkatkan tarif di suatu titik waktu mendatang,” ujarnya. Ia menambahkan, para investor mungkin telah sampai pada kesimpulan bahwa tidak bijaksana untuk bereaksi negatif terhadap setiap berita yang muncul.

Selain itu, tarif balasan yang akan diberlakukan oleh China terhadap beberapa ekspor AS juga akan mulai berlaku pada hari yang sama. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa negosiasi antara Beijing dan Washington menunjukkan kemajuan yang berarti. Para pedagang minyak dan gas kini tengah mencari pengecualian dari Beijing untuk impor minyak mentah AS dan gas alam cair.

Di sisi lain, Trump juga mengungkapkan bahwa AS sedang membuat kemajuan dalam negosiasi dengan Rusia terkait untuk mengakhiri konflik di Ukraina. Meski demikian, ia enggan memberikan rincian lebih lanjut mengenai komunikasi yang telah dilakukan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Pengaruh sanksi yang dijatuhkan terhadap perdagangan minyak Rusia pada 10 Januari lalu telah mengganggu pasokan Moskow ke klien utamanya, yaitu China dan India.

Sementara itu, tekanan yang meningkat dari Washington terhadap Iran juga terlihat melalui penjatuhan sanksi baru oleh Kementerian Keuangan AS. Sanksi ini ditujukan kepada sejumlah individu dan tanker yang terlibat dalam pengiriman jutaan barel minyak mentah Iran per tahun ke China.

Dalam kondisi pasar yang diwarnai oleh ketidakpastian ini, para pelaku pasar akan terus memantau perkembangan terkait kebijakan perdagangan global serta dampaknya terhadap permintaan energi dan harga minyak. Dengan ketegangan yang masih membayangi hubungan perdagangan antara AS dan negara-negara lain, sektor energi dan komoditas lainnya tetap berada di bawah tekanan yang intens dari berbagai arah, menandakan bahwa volatilitas di pasar kemungkinan akan berlanjut.

Hendrawan adalah penulis di situs spadanews.id. Spada News adalah portal berita yang menghadirkan berbagai informasi terbaru lintas kategori dengan gaya penyajian yang sederhana, akurat, cepat, dan terpercaya.

Berita Terkait

Back to top button