
Valentine’s Day, yang biasanya identik dengan cokelat sebagai salah satu hadiah utama, kini terancam oleh perubahan iklim yang menyebabkan lonjakan harga cokelat. Para pecinta cokelat mungkin harus bersiap-siap mengeluarkan lebih banyak uang untuk mendukung hobi manis mereka. Sebuah laporan terbaru menunjukkan bahwa banyak cokelat yang akan tersedia dalam kotak berbentuk hati di hari kasih sayang ini mungkin mengandung lebih banyak bahan pengisi seperti kacang dan buah, sebagai cara untuk menekan biaya yang terus meroket.
Menurut Jacques Torres, seorang chocolatier ternama di New York City, perubahan komposisi cokelat ini disebabkan oleh lonjakan harga kakao — bahan utama cokelat. Tahun lalu, harga kakao naik sekitar 200%, dengan harga masa depan kakao global mencapai rekor lebih dari $12.000 per ton, memicu berbagai strategi baru bagi produsen cokelat. “Kami biasanya menganggap hazelnut dan pistachio sebagai bahan tambahan yang mahal. Kini, kacang-kacangan tersebut justru menjadi cara untuk menurunkan biaya cokelat,” kata Torres.
Kenaikan harga ini tidak dapat dipisahkan dari dampak perubahan iklim. Cuaca ekstrem yang diakibatkan oleh perubahan iklim telah memengaruhi daerah penghasil kakao di Afrika Barat, yang menyuplai sebagian besar produksi kakao dunia. Data dari Climate Central mengungkap bahwa 71% daerah penghasil kakao di wilayah tersebut mengalami suhu yang lebih tinggi dari rata-rata ideal untuk pertumbuhan kakao. Pada tahun 2024, rata-rata suhu di daerah tersebut melonjak hingga 42 hari melebihi batas suhu yang seharusnya, dengan curah hujan berdampak pada 40% lebih banyak dari ekspektasi di puncak musim hujan.
Dampak dari suhu yang meningkat dan curah hujan berlebih ini berkontribusi terhadap peningkatan penyakit jamur pada biji kakao. Dalam laporan Wells Fargo Agri-Food Institute, diperkirakan bahwa produksi kakao untuk musim panen 2023-2024 telah turun 13,1% dari tahun sebelumnya. “Ini adalah kondisi baru yang harus dihadapi,” ujar Jason Clay, direktur eksekutif Markets Institute for the World Wildlife Fund.
Berikut adalah beberapa sisi dampak yang dirasakan konsumen:
Penurunan Produksi Kakao: Defisit pasokan kakao saat ini tercatat pada angka 478.000 metrik ton, yang merupakan yang terburuk dalam 60 tahun terakhir.
Kenaikan Harga: Para produsen cokelat, seperti Torres, sudah menaikkan harga sekitar 20% dan diperkirakan akan ada kenaikan lagi, terutama menjelang musim perayaan berikutnya.
Strategi Pemroduksian: Untuk mengatasi lonjakan biaya, produsen mulai menambah bahan pengisi seperti kacang dalam produk cokelat mereka.
Risiko Panen: Cuaca tidak menentu telah menyebabkan kerugian besar dalam hasil panen, yang akan menciptakan keraguan terhadap ketersediaan produk cokelat di masa depan.
- Adaptasi Konsumen: Munculnya tren di kalangan konsumen muda, yang lebih memilih permen non-cokelat, menjadi ancaman tambahan bagi produsen cokelat tradisional.
Sementara itu, produsen besar seperti Hershey pun merespons ketidakpastian pasar dengan mengajukan izin untuk membeli lebih dari 90.000 metrik ton kakao, meski permintaan tersebut ditolak oleh pihak regulator. Menurut juru bicara Hershey, mereka memiliki proses pengadaan yang ketat dan tidak khawatir tentang kekurangan kakao untuk tahun 2025.
Ke depan, pasar cokelat diharapkan memerlukan langkah-langkah perlindungan lingkungan yang lebih ketat. Menanam lebih banyak pohon dan menciptakan sistem pertanian berkelanjutan menjadi beberapa dari banyak langkah yang diperlukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim. “Perubahan iklim baru saja mulai mempengaruhi produksi makanan dan akan semakin buruk,” tegas Clay, yang juga menekankan pentingnya kerja sama antara produsen untuk menghadapi tantangan ini.
Saat ini, tampaknya konsumen harus bersiap beradaptasi dengan penawaran cokelat yang berbeda dan mungkin lebih banyak menggunakan makanan penutup alternatif sebagai respons terhadap tantangan yang dihadapi industri ini.