Sains

Perjalanan Panjang Kehidupan Cerdas: Lebih Mungkin dari Dugaan?

Evolusi kehidupan cerdas di Bumi berlangsung selama miliaran tahun, tetapi menurut para ahli, proses tersebut mungkin tidak serumit yang diprediksi banyak ilmuwan selama ini. Sebuah model evolusi yang populer sebelumnya menyatakan bahwa munculnya kehidupan cerdas, serupa manusia, di Bumi adalah sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi, dan bahwa bentuk kecerdasan ekstraterestrial sangat langka.

Namun, sejumlah peneliti yang mempelajari sejarah kehidupan dan lingkungan Bumi berpendapat bahwa evolusi kehidupan di permukaan Bumi mungkin terjadi dengan cara yang membuat munculnya kecerdasan mirip manusia menjadi hasil yang lebih bisa diprediksi. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi manusia sebagai pencapaian langka dalam evolusi mungkin perlu ditinjau kembali.

Salah satu landasan pemikiran ini adalah teori yang dikenal sebagai “model langkah berat” yang dikemukakan oleh fisikawan Brandon Carter pada tahun 1983. Dalam publikasi berpengaruhnya, Carter mencoba menjelaskan apa yang ia sebut sebagai kebetulan luar biasa: hampir sama antara perkiraan umur Matahari, yang diperkirakan sekitar 10 miliar tahun, dengan waktu yang dibutuhkan Bumi untuk menghasilkan manusia. Ia menggambarkan tiga kemungkinan; pertama, kehidupan cerdas seperti manusia muncul dengan cepat di planet lain; kedua, muncul dalam waktu yang sama dengan Bumi; dan ketiga, Bumi sangat beruntung karena biasanya diperlukan waktu yang jauh lebih lama, mungkin triliunan tahun, untuk kehidupan semacam itu berkembang.

Data menunjukkan bahwa Carter lebih condong ke opsi ketiga, di mana kehidupan mirip manusia memerlukan langkah-langkah evolusi yang sangat tidak mungkin, sehingga Bumi harus sangat beruntung menyelesaikannya. Carter bahkan menyebut langkah-langkah ini sebagai “langkah berat” yang harus ada untuk keberadaan manusia dan memerlukan waktu yang panjang untuk bisa terwujud.

Ada juga anggapan dari para fisikawan, Frank Tipler dan John Barrow, yang berpendapat bahwa langkah-langkah ini hanya terjadi sekali dalam sejarah kehidupan di Bumi. Sebagai contoh, asal mula sel eukariotik merupakan salah satu contoh hard step yang paling terkenal. Jika sel eukariotik tidak pernah muncul, maka manusia sebagai spesies tidak mungkin ada. Artefak ini mengindikasikan bahwa langkah-langkah evolusi tersebut mungkin terjadi sekali saja.

Namun, ada kontroversi mengenai apakah langkah-langkah ini sebenarnya memang unik. Beberapa ilmuwan mengusulkan bahwa kemiripan evolusi di satu cabang pohon kehidupan bisa jadi disebabkan oleh hilangnya informasi akibat kepunahan dan ketidaklengkapan catatan fosil. Mungkin, inovasi tersebut telah berevolusi lebih dari sekali, tetapi hanya satu contoh yang tersisa sampai saat ini. Selain itu, mungkin juga bahwa langkah-langkah ini terjadi hanya sekali, tetapi mengubah kondisi lingkungan secara dramatis, sehingga spesies lain tidak memiliki kesempatan untuk berevolusi dalam cara yang sama.

Lalu, mengapa intelegensi serupa manusia tidak muncul lebih awal dalam sejarah kehidupan Bumi? Geobiolog berargumen bahwa banyak faktor lingkungan yang harus ada terlebih dahulu sebelum kehidupan cerdas bisa berkembang. Misalnya, 90% dari sejarah Bumi berlalu sebelum atmosfer cukup kaya oksigen untuk mendukung kehidupan manusia.

Perubahan dalam lingkungan permukaan Bumi seiring waktu juga memungkinkan beragam habitat untuk kehidupan. Dengan cara ini, kondisi yang diperlukan untuk langkah-langkah evolusi utama tercipta secara bertahap, mendukung argumen bahwa manusia mungkin hanya muncul ketika lingkungan sudah memungkinkan.

Keberadaan langkah berat dapat diuji dengan kolaborasi antara ilmuwan Bumi dan kehidupan untuk menentukan kapan lingkungan permukaan Bumi menjadi mendukung masing-masing langkah evolusi yang diusulkan. Dengan pengetahuan ini, para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu, termasuk paleontologi dan astronomi, dapat berkolaborasi untuk memahami probabilitas munculnya kehidupan cerdas.

Seiring peneliti terus menggali lebih dalam tentang evolusi kehidupan, mungkin kita akan menemukan bahwa kemunculan kecerdasan manusia bukanlah peristiwa langka di alam semesta, melainkan hasil yang lebih terduga dalam jalur evolusi yang lebih umum. Hal ini berpotensi meningkatkan harapan untuk menemukan bukti kecerdasan ekstraterestrial di masa depan.

Hendrawan adalah penulis di situs spadanews.id. Spada News adalah portal berita yang menghadirkan berbagai informasi terbaru lintas kategori dengan gaya penyajian yang sederhana, akurat, cepat, dan terpercaya.

Berita Terkait

Back to top button