Pengaruh Kinerja Buruk Tottenham di Chelsea untuk Postecoglou

Chelsea berhasil meraih kemenangan dramatis dengan skor 1-0 melawan Tottenham dalam pertandingan Premier League yang berlangsung di Stamford Bridge, Sabtu lalu. Hasil ini mencatatkan kekalahan yang semakin memperburuk posisi manajer Tottenham, Ange Postecoglou, di klub yang bersejarah namun kini terjerat masalah. Pertandingan ini menambah daftar hasil buruk bagi tim London Utara tersebut, yang kini tampak kesulitan beradaptasi dengan gaya permainan yang diinginkan Postecoglou.

Pertandingan dimulai dengan Chelsea mendominasi permainan sejak menit awal. Enzo Fernandez mencetak gol penentu pertandingan melalui sundulan yang mengesankan, sementara Tottenham tampak kocar-kacir di lini belakang. Meskipun Tottenham memiliki sejumlah pemain yang kembali dari cedera, performa mereka tetap menyisakan banyak pertanyaan, terutama tentang komitmen tim dan taktik yang diterapkan.

Pasca gol pertama Chelsea, Postecoglou memutuskan untuk menarik Lucas Bergvall dan memasukkan Pape Sarr. Keputusan ini langsung disambut dengan sorakan skeptis dari para penggemar Spurs yang meneriakkan “Anda tidak tahu apa yang Anda lakukan.” Tindakan Postecoglou yang terlihat merayakan dengan mengangkat dua telinganya menambah komedi tragedi dari pertandingan ini, terutama setelah gol Sarr yang menyamakan kedudukan dibatalkan oleh VAR karena pelanggaran yang dilakukan sebelumnya.

Kekalahan ini bukan hanya sekedar angka di papan skor; namun lebih merupakan cermin dari kekacauan yang melanda Tottenham. Statistik menunjukkan bahwa mereka kini mencatat persentase kekalahan terburuk dalam sejarah klub, mencapai lebih dari 53 persen dalam satu musim. Hal ini menjadi pukulan berat bagi manajemen klub yang mungkin harus mempertimbangkan langkah-langkah drastis di akhir musim ini.

Sejumlah pengamat telah meramalkan bahwa Postecoglou akan segera digantikan, apalagi jika tim tidak mampu menunjukkan kemajuan yang signifikan, seperti meraih gelar di kompetisi Eropa. Fans juga menunjukkan ketidakpuasan mereka bukan hanya kepada manajer, tetapi juga kepada pemilik klub, Daniel Levy. Teriakan “Daniel Levy keluar” menggema di akhir pertandingan, menunjukkan bahwa ketidakpuasan telah menular ke seluruh elemen klub.

Dalam perbandingan, Chelsea, di bawah manajer Enzo Maresca, menunjukkan peningkatan performa meskipun masih ada kekurangan dalam hal eksekusi. Chelsea saat ini berada di jalur yang lebih positif dalam upaya mereka untuk kembali ke papan atas, sementara kesehatan tim dan integrasi pemain baru menjadi fokus utama bagi mereka.

Hal yang sangat dikhawatirkan bagi Tottenham adalah kurangnya identitas dalam permainan. Tim terlihat tidak bersatu, tanpa rencana permainan yang jelas, dan mudah ditembus oleh lawan. Sebagai catatan, pertandingan melawan Chelsea seharusnya bisa berakhir dengan kekalahan yang lebih telak bagi Spurs jika bukan karena ketidakcermatan dalam penyelesaian akhir dari para pemain Chelsea.

Dengan situasi yang semakin memburuk, pengamat menyarankan manajemen Tottenham untuk segera mencari manajer alternatif. Nama-nama seperti Andoni Iraola, Marco Silva, dan Thomas Frank kini muncul sebagai kandidat potensial yang bisa membawa tim ke arah yang lebih baik. Ketidakpastian di sekitar Postecoglou membawa dampak emosional bagi penggemar, yang mendambakan kembalinya kejayaan Spurs.

Di tengah semua drama ini, ada harapan tipis bagi Postecoglou untuk membalikkan keadaan. Namun, dengan kondisi saat ini, sulit untuk membayangkan bahwa dia akan berada di kursi manajer Spurs pada musim depan. Kinerja tim yang tidak konsisten dan kurangnya dukungan dari fans menambah beban bagi manajer asal Australia tersebut, seiring waktu semakin mendekat ke akhir musim yang menegangkan. Stadium yang semula menjadi saksi kejayaan Spurs kini menjadi tempat protes dan kekecewaan, mencerminkan perjalanan panjang yang masih dibutuhkan untuk mengembalikan klub ke jalur kemenangan.

Berita Terkait

Back to top button