Sains

Penemuan Baru: Gletser Ubah Kimia Laut dan Awali Kehidupan Kompleks

Lebih dari setengah miliar tahun yang lalu, di Bumi yang tertutup es, gletser memainkan peran kunci dalam menciptakan bahan-bahan yang mendukung kehidupan kompleks dengan cara mengeruk mineral dari daratan dan mengendapkannya di laut. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa pergerakan gletser ini, yang dikenal dengan istilah “bulldozing,” telah berkontribusi terhadap perubahan kimia laut yang penting bagi munculnya kehidupan yang lebih kompleks di Bumi.

Selama era Neoproterozoik, yang juga dikenal sebagai “Snowball Earth,” Bumi mengalami periode pembekuan yang ekstrem yang berlangsung dari sekitar 1 miliard hingga 543 juta tahun yang lalu. Pada masa ini, daratan bersatu dalam sebuah superkontinen yang disebut Rodinia, kemudian terpecah kembali. Hidup di lautan saat itu adalah berbagai bentuk kehidupan awal, seperti mikroba, sianobakteri, spons, dan organisme yang tinggal di dasar laut. Kemudian, sebagai efek dari berakhirnya era ini, muncul kehidupan laut yang lebih kompleks dengan penampakan makhluk laut yang memiliki armor, cangkang, dan duri.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Geology menunjukkan bahwa pergerakan gletser kuno dapat secara langsung membentuk perubahan kimia di lautan yang krusial bagi evolusi organisme kompleks. Dr. Chris Kirkland, penulis utama studi tersebut, menjelaskan bahwa data geologis yang mendalam mengindikasikan bagaimana perubahan di satu bagian Bumi dapat mempengaruhi bagian lainnya.

“Melalui rekaman geologis yang sudah ada, kami dapat melihat bagaimana perubahan yang terjadi di satu bagian Bumi dapat memengaruhi yang lain,” ujar Kirkland. Saat ini, pemanasan planet yang disebabkan oleh aktivitas manusia terjadi jauh lebih cepat dibandingkan dengan proses-proses kuno yang berlangsung selama jutaan tahun. Hal ini menyoroti pentingnya tindakan untuk mengatasi perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Proses glasiar diketahui dapat mengangkat dan mengangkut sedimen darat ke laut, membentuk dasar rantai makanan akuatik. Namun, para peneliti sebelumnya tidak yakin apakah gletser pada era Neoproterozoik bergerak cukup untuk mengikis tanah di bawahnya dan memindahkan mineral ke laut. Kirkland dan timnya menemukan jawaban di Skotlandia dan Irlandia Utara. Mereka melakukan studi pada sedimen dari formasi batuan yang berasal dari era tersebut dan menemukan pola mineral yang menunjukkan adanya pergeseran yang signifikan dalam komposisi mineral seiring dengan pergerakan gletser.

Sebanyak dua glaciation besar diperkirakan terjadi antara 720 juta dan 635 juta tahun yang lalu, yang diakhiri dengan perubahan besar dalam kimia atmosfer dan lautan. Kirkland menyatakan bahwa akhir dari glasiar ini ditandai dengan peningkatan pesat dalam kadar oksigen di atmosfer dan lautan, kemungkinan disebabkan oleh proses pelapukan yang lebih besar dari permukaan batuan yang terpapar, serta peningkatan aliran nutrisi ke lautan. Perubahan ini mungkin memberi dorongan yang diperlukan bagi kehidupan awal untuk berevolusi menjadi bentuk yang lebih kompleks.

Terlepas dari temuan ini, ada beberapa pertanyaan yang tetap ada mengenai dampak jangka panjang dari perubahan ini terhadap lingkungan. Dr. Andrew Knoll dari Harvard University mengungkapkan bahwa meskipun ide bahwa sedimen gletser dari zaman Neoproterozoik menyediakan nutrisi untuk mendukung evolusi hewan awal sudah ada sejak lama, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan konsistensi dan dampak dari mineral yang dikirim ke lautan oleh gletser.

Menariknya, pembelajaran dari masa lalu seperti Neoproterozoik memberikan wawasan berharga tentang perubahan iklim saat ini. Hal ini termasuk peran karbon dioksida (CO2) dan pengaruh umpan balik terhadap sistem iklim Bumi. Dengan memahami interaksi kimia ini, para ilmuwan dapat melihat bagaimana satu bagian dari sistem dapat memengaruhi bagian lainnya, sebuah pelajaran yang sangat relevan di tengah krisis iklim yang dihadapi saat ini.

Dengan pemanasan Bumi yang berlangsung lebih cepat daripada perubahan iklim alami di masa lalu, pemahaman tentang efek jangka panjang dari aktivitas manusia menjadi semakin mendesak. Penelitian lanjut tentang interaksi antara proses alami dan dampak manusia akan sangat penting untuk memahami dan mengatasi tantangan iklim yang kita hadapi saat ini.

Hendrawan adalah penulis di situs spadanews.id. Spada News adalah portal berita yang menghadirkan berbagai informasi terbaru lintas kategori dengan gaya penyajian yang sederhana, akurat, cepat, dan terpercaya.

Berita Terkait

Back to top button