Wall Street menghadapi tantangan dan peluang di tengah ketidakpastian ekonomi global. Meskipun saham di bursa AS tampak tertinggal dibandingkan pasar internasional, indeks S&P 500 berhasil mencatat rekor tertinggi baru pada hari Selasa silam. Hal ini terjadi di tengah berbagai isu terkini, mulai dari ancaman tarif baru, pembaruan sektor perumahan, hingga rilis notulen Federal Reserve yang dinanti-nanti.
Investor global tahun ini lebih memilih untuk berinvestasi di saham Eropa dan teknologi China yang lebih terjangkau, beralih dari saham AS yang dinilai cukup mahal. Perkembangan negosiasi tentang konflik Ukraina dan pemilihan di Jerman akhir pekan lalu semakin memicu ketertarikan terhadap saham Eropa, yang memberikan sinyal positif meskipun pasar masih dalam kondisi bergejolak.
Indeks kejutan ekonomi yang disusun oleh Citi menunjukkan bahwa zona euro berada pada titik paling positif dalam delapan bulan, sementara ukuran yang sama di AS mengalami penurunan ke area negatif. Ini menandai pergeseran yang signifikan, di mana selisih antara keduanya menjadi yang paling mendukung Eropa sejak bulan Juli. Dalam konteks ini, meskipun penyesuaian portofolio investasi sedang berlangsung, gambaran aktivitas global yang masih optimis tetap memberikan dorongan bagi indeks di AS untuk terus merangkak naik.
Dalam beberapa hari terakhir, perkembangan geopolitik, terutama menyangkut ancaman tarif yang diulang oleh Presiden AS, Donald Trump, menjadi perhatian utama. Beliau kembali mengisyaratkan kemungkinan penerapan tarif 25% pada otomotif, obat-obatan, dan chip, meningkatkan ketegangan terkait pembicaraan Ukraina yang juga tengah berlangsung. Keputusan Washington untuk berbicara langsung dengan Rusia tanpa melibatkan Ukraina telah menimbulkan kekhawatiran besar di Eropa mengenai konsekuensi terhadap pemerintahan Kyiv.
Dengan adanya kekhawatiran tersebut, para pemimpin Uni Eropa kini bersiap menghadapi peningkatan risiko keamanan di masa mendatang. Mereka berupaya untuk meningkatkan pengeluaran pertahanan dan mencari cara untuk membiayainya. Pasar pun bereaksi, dengan saham pertahanan Eropa melonjak pada minggu ini, sementara pembicaraan mengenai pengeluaran publik yang lebih tinggi di Jerman setelah pemilihan akhir pekan lalu menambah keberanian investor terhadap kebangkitan blok euro.
Kenaikan imbal hasil obligasi Jerman juga tercatat, ditambah dengan menyempitnya spread risiko antara Jerman dan negara-negara euro lainnya. Spread 10 tahun Italia menyentuh level terendah dalam tiga setengah tahun, sementara spread Prancis kembali berada di titik terendah sejak Juli. Fenomena ini mencerminkan respons pasar terhadap perubahan kebijakan dan harapan terhadap stabilitas ekonomi di kawasan tersebut.
Namun, nilai euro sendiri mengalami penurunan pada Rabu pagi, sebagian karena ancaman tarif yang baru saja disampaikan tersebut, yang turut mengangkat nilai dolar dan imbal hasil Treasury AS. Di sisi lain, harga emas mencapai rekor tertinggi baru, mencatat $2,946.75 per ons, karena ketegangan perdagangan dan militer serta berita inflasi yang mengemuka.
Sementara itu, berbagai laporan ekonomi penting dari AS juga akan dirilis, termasuk data tentang izin bangunan dan sektor layanan yang dipublikasikan oleh Federal Reserve. Rapat yang diadakan pada akhir Januari lalu akan memberikan insight lebih lanjut kepada pelaku pasar tentang arah kebijakan moneter yang akan datang.
Serangkaian laporan pendapatan perusahaan, seperti Analog Devices, American Water Works, dan Garmin, diharapkan akan memberi petunjuk lebih lanjut mengenai kinerja sektor-sektor yang berbeda di pasar. Selain itu, penjualan obligasi Treasury senilai $16 miliar untuk jangka waktu 20 tahun dijadwalkan berlangsung, yang menjadi penting untuk melihat respons pasar terhadap kondisi ekonomi yang berkembang.
Dalam konteks yang lebih luas, meskipun Wall Street menghadapi tantangan dan ketidakpastian, potensi untuk mencapai puncak baru tetap ada, bergantung pada bagaimana perkembangan ekonomi dan politik global berjalan ke depan.