Mantan Menteri Keuangan Ghana, Ken Ofori-Atta, telah dinyatakan sebagai pelarian oleh pihak jaksa atas dugaan keterlibatannya dalam berbagai kasus korupsi selama ia menjabat. Pengumuman ini disampaikan oleh Jaksa Khusus Kissi Agyabeng, yang menegaskan bahwa Ofori-Atta telah meninggalkan Ghana untuk menghindari proses penyelidikan yang sedang berlangsung. Ofori-Atta, yang menjabat sebagai menteri dari Januari 2017 hingga Februari 2024, diduga telah menyebabkan kerugian finansial bagi negara, termasuk mengenai pembangunan katedral nasional yang menuai kontroversi, dengan dana sekitar $58 juta yang dihabiskan meskipun proyek tersebut hingga kini belum menunjukkan kemajuan.
Dalam keterangan persnya, Agyabeng menyatakan bahwa Ofori-Atta seharusnya menghadiri wawancara dengan Kantor Jaksa Khusus, tetapi tidak hadir dengan alasan kesehatan. Menurut pengacara Ofori-Atta, beliau sedang berada di luar negeri untuk perawatan medis. Namun, Agyabeng menepis alasan tersebut dan menyebutkan bahwa tindakan Ofori-Atta untuk meninggalkan negara menunjukkan niat untuk tidak kembali secara sukarela.
Ofori-Atta sudah meninggalkan Ghana sejak awal Januari dan hingga saat ini pihak berwenang telah menyatakan Ofori-Atta sebagai "wanted person" atau orang yang dicari. Hal ini menciptakan situasi yang menegangkan di kalangan masyarakat, mengingat posisi tinggi Ofori-Atta di pemerintahan sebelumnya yang dipimpin oleh Partai Patriotik Baru (NPP) hingga kalah dalam pemilihan Desember lalu melawan Partai Demokratik Nasional (NDC).
Sebagai tindak lanjut dari kasus ini, Presiden Ghana yang baru dilantik, John Mahama, mengambil langkah tegas dengan membentuk komite investigasi bernama Operasi Pemulihan Semua Harta. Komite ini telah menerima lebih dari 200 laporan dugaan korupsi dengan jumlah kerugian yang diperkirakan mencapai lebih dari $20 miliar. Mahama juga memerintahkan jaksa agung untuk mendalami semua laporan ini dan menegaskan bahwa Ghana tidak lagi akan menjadi surga bagi praktik korupsi.
Berikut adalah rinciannya mengenai dugaan korupsi yang melibatkan Ofori-Atta:
- Katedral Nasional: Terdapat dana yang dihabiskan sekitar $58 juta untuk pembangunan katedral yang hingga kini belum selesai.
- Kerugian Finansial: Ofori-Atta dituduh telah mengakibatkan kerugian signifikan bagi negara melalui berbagai proyek yang ditangani saat menjabat.
- Keterlibatan dalam Banyak Kasus: Kasus-kasus ini bukan hanya terbatas pada satu proyek, tetapi mencakup berbagai isu yang lebih luas yang melibatkan pengelolaan dana negara.
Masyarakat Ghana saat ini mulai menunjukkan rasa skeptis terhadap langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah untuk menangani kasus korupsi. Beberapa merasa bahwa pemerintahan baru Mahama harus melakukan tindakan yang lebih efektif agar kredibilitas dalam penegakan hukum dan keadilan dapat terwujud.
Di tengah situasi ini, Ofori-Atta tetap bungkam dan tidak memberikan komentar terkait tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Penegakan hukum di Ghana kini menghadapi tantangan yang signifikan, terutama dalam konteks empat bulan setelah pelantikan presiden baru dan tenggat waktu yang semakin mendekat untuk menyelesaikan penyelidikan terhadap dugaan korupsi di pemerintahan sebelumnya. Hal ini semakin memperkuat kebutuhan akan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan publik di negara tersebut.