
Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Rabu lalu menghubungi Presiden Sementara Suriah, Ahmed al-Sharaa, dan mengundangnya untuk berkunjung ke Prancis dalam beberapa minggu mendatang. Undangan ini menandai kontak langsung pertama al-Sharaa dengan seorang pemimpin negara Eropa sejak ia mengambil jabatan presiden.
Dalam pernyataan dari kantor kepresidenan Suriah, Macron mengucapkan selamat kepada al-Sharaa atas pengangkatannya dan mengapresiasi upaya "memperoleh kemerdekaan bagi negara." Meskipun awalnya tidak ada konfirmasi resmi dari Paris mengenai undangan tersebut, Macron melakukan panggilan tersebut sebagai bagian dari inisiatif menuju konferensi internasional tentang Suriah yang dijadwalkan berlangsung di Paris pada 13 Februari mendatang.
Macron menyampaikan harapannya agar proses yang dimulai oleh pemerintah sementara Suriah dapat memenuhi aspirasi rakyat Suriah. Ia menekankan loyalitas Prancis terhadap kekuatan demokratis di Suriah dan menyerukan integrasi penuh mereka dalam proses transisi Suriah. Selain itu, Macron juga menjelaskan bahwa Prancis berupaya untuk mencabut sanksi terhadap Suriah guna mendorong pemulihan ekonomi dan pertumbuhan.
Al-Sharaa menyampaikan terima kasih kepada Macron atas dukungan Prancis terhadap rakyat Suriah dalam beberapa tahun terakhir. Sejak pecahnya perang saudara di Suriah pada 2011, Prancis telah memberikan dukungan logistik dan militer kepada para pemberontak di negara tersebut.
Berikut adalah beberapa poin penting mengenai kunjungan dan isu-isu terkait:
Pengangkatan Al-Sharaa: Ahmed al-Sharaa baru dilantik sebagai presiden sementara Suriah setelah milisi Islamis HTS melakukan serangkaian serangan cepat yang menggulingkan pemerintahan mantan diktator Bashar al-Assad pada bulan Desember lalu.
Perjalanan Diplomatik: Sejak menjabat, al-Sharaa telah melakukan perjalanan ke Arab Saudi dan Turki, serta menerima delegasi tinggi dari Uni Eropa dan negara-negara lain.
Pendekatan Prancis: Prancis menunjukkan kemajuan dalam mendekatkan diri dengan para pemimpin baru di Suriah. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot, dan menteri luar negeri Jerman, Annalena Baerbock, telah melakukan kunjungan ke Damaskus atas nama Uni Eropa pada awal Januari.
- Kerjasama Ekonomi: Sekitar waktu yang sama dengan panggilan Macron, Otoritas Pelabuhan Darat dan Laut Suriah mengumumkan bahwa raksasa pelayaran Prancis, CMA CGM, akan terus mengoperasikan terminal kontainer penting di Latakia di bawah kontrak baru. Kesepakatan ini mencakup "syarat dan mekanisme baru" serta penyelesaian utang dari kedua belah pihak selama satu dekade terakhir. Latakia adalah pelabuhan terpenting di Suriah, dan Iran juga sebelumnya berupaya menguasai terminal tersebut, yang telah dioperasikan oleh CMA CGM selama bertahun-tahun.
Kunjungan yang direncanakan oleh al-Sharaa ke Prancis bukan hanya sekadar simbolis. Ini mencerminkan harapan baru bagi relasi internasional Suriah dan potensi rekonsolidasi negara tersebut setelah bertahun-tahun konflik. Fokus Prancis untuk mendukung transisi yang demokratis di Suriah diharapkan dapat membuka jalan bagi dialog yang lebih konstruktif dan integratif antara semua pihak yang terlibat dalam proses perdamaian di negara tersebut.