
Konflik di Republik Demokratik Kongo (DRC) telah berlangsung selama lebih dari 30 tahun, dipicu oleh berbagai faktor yang saling terkait. Sejak genosida Rwanda pada tahun 1994, wilayah timur DRC, yang kaya mineral, telah menjadi medan pertempuran bagi berbagai kelompok bersenjata yang berebut kekuasaan dan sumber daya. Saat ini, ketegangan kembali meningkat dengan kemajuan pesat yang dicapai oleh kelompok pemberontak M23, yang berhasil merebut sejumlah kota strategis.
Salah satu langkah signifikan M23 terjadi pada akhir Januari lalu ketika mereka merebut Goma, kota di provinsi Kivu Utara yang dihuni lebih dari satu juta orang. Goma, yang berada di perbatasan dengan Rwanda dan dekat Danau Kivu, merupakan pusat perdagangan dan transportasi yang vital, terhubung dengan daerah-daerah pertambangan yang menghasilkan logam dan mineral yang sangat dibutuhkan. Setelah perebutan Goma, badan bantuan PBB mengeluarkan peringatan akan krisis kemanusiaan besar-besaran dengan kekurangan makanan dan air serta rumah sakit yang kewalahan dengan jumlah korban.
Berikut adalah beberapa informasi kunci terkait konflik di DRC:
Siapa itu M23?
M23 dipimpin oleh etnis Tutsi yang mengklaim bahwa mereka terpaksa mengangkat senjata untuk melindungi hak-hak kelompok minoritas ini. Nama M23 sendiri diambil dari kesepakatan damai yang ditandatangani pada 23 Maret 2009. Sejak dibentuk pada tahun 2012, M23 dengan cepat menguasai wilayah dan menyerang Goma, meskipun mereka sempat dipaksa mundur oleh tentara Kongo dan pasukan PBB.Peran Rwanda dalam Konflik:
Meskipun Rwanda secara konsisten membantah dukungan terhadap M23, lembaga-lembaga internasional, termasuk ahli PBB, menuduh Rwanda memberikan dukungan logistik dan senjata kepada kelompok ini. Laporan terbaru bahkan menyebutkan bahwa hingga 4.000 pasukan Rwandan bertempur bersama M23. Rwanda mengklaim bahwa mereka mengerahkan pasukannya di perbatasan untuk mencegah konflik meluas ke wilayahnya.Kekayaan Minerba Kongo:
DRC dikenal memiliki kekayaan mineral yang melimpah, termasuk emas dan coltan, mineral yang digunakan untuk membuat perangkat elektronik. M23 telah mengambil alih beberapa area tambang yang menguntungkan. Laporan menyebutkan M23 mengirim sekitar 120 ton coltan ke Rwanda setiap bulan, sementara Rwanda dituduh memanfaatkan konflik untuk mengeruk sumber daya alam DRC.Misi Perdamaian PBB:
Misi pemeliharaan perdamaian PBB (Monusco) telah ada di DRC sejak 1999, dengan lebih dari 10.000 tentara. Namun, hanya Brigade Intervensi yang diizinkan untuk melakukan operasi ofensif, yang sebelumnya berhasil mengalahkan M23 pada tahun 2013. Ketidakpuasan masyarakat Kongo terhadap misi ini semakin meningkat, dengan Presiden Félix Tshisekedi meminta pengerahan pasukan tersebut diakhiri.- Latar Belakang Sejarah:
Akar konflik saat ini dapat ditelusuri kembali ke genosida Rwanda, di mana sekitar 800.000 orang, sebagian besar dari komunitas Tutsi, dibunuh. Setelah genosida, banyak etnis Hutu melarikan diri ke DRC, yang menyebabkan ketegangan etnis baru. Kelompok Hutu, termasuk FDLR, yang terdiri dari orang-orang yang bertanggung jawab atas genosida, masih aktif di timur DRC.
Hingga kini, konflik di DRC menjadi salah satu yang paling kompleks di dunia, dengan banyak aktor dan kepentingan yang terlibat, baik lokal maupun internasional. Ketidakamanan yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada stabilitas regional tetapi juga menyebabkan krisis kemanusiaan yang semakin mendalam bagi penduduk sipil yang terjebak dalam kekerasan.