Internasional

Kekacauan Meletus: Penembakan dan Penjarahan di DR Congo

Skenario kacau terus berkembang di Bukavu, sebuah kota di Republik Demokratik Kongo (DRC), saat kelompok pemberontak M23 melanjutkan ofensif mereka di wilayah tersebut. Sabtu lalu, laporan menunjukkan adanya tembakan sporadis dan penjarahan secara besar-besaran di kota tersebut, termasuk di gudang Program Pangan Dunia (WFP), sedangkan warga memilih berlindung di rumah mereka.

Setelah minggu-minggu penuh ketegangan, muncul kabar yang membingungkan mengenai apakah pasukan pemberontak yang didukung oleh Rwanda telah memasuki Bukavu, setelah penguasaan kavumu, bandara di utara kota tersebut. Meskipun belum ada kepastian terkait penguasaan kota, ketegangan di wilayah sekitarnya terus meningkat.

Di tengah situasi yang semakin memburuk, PBB dan Uni Eropa menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap eskalasi konflik yang terjadi. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, pada Jumat lalu menegaskan perlunya menghindari penyebaran konflik secara regional "dengan segala cara," menekankan bahwa tidak ada solusi militer untuk masalah ini. Ia juga menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah DRC.

Di sisi lain, ancaman oleh kepala angkatan bersenjata Uganda, yang menyatakan akan menyerang kota Bunia jika semua kekuatan di sana tidak menyerahkan senjata dalam waktu 24 jam, menambah ketakutan bahwa konflik ini dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih luas. Guterres meminta kerja sama yang lebih baik untuk mencegah terulangnya krisis kemanusiaan yang parah, seperti yang pernah terjadi pada tahun 1990-an dan 2000-an.

Berikut adalah beberapa poin penting mengenai situasi terkini di Bukavu:

  1. Penjarahan WFP: Salah satu titik fokus penjarahan adalah gudang Program Pangan Dunia yang menyimpan 6.800 metrik ton makanan. Seorang juru bicara WFP menyebutkan bahwa pencurian ini akan memperburuk kesulitan bagi mereka yang membutuhkan, yang mana kegiatan lembaga tersebut telah terhenti selama beberapa minggu akibat penurunan keamanan.

  2. Kehidupan Warga Sipil: Saksi mata di Bukavu menggambarkan situasi yang sangat mencekam. Banyak warga yang memilih tidak keluar rumah karena ketakutan akan kekerasan dan kemungkinan penyerangan oleh para penjarah. Salah satu warga perempuan menyatakan, "Saya hanya memiliki cukup makanan untuk tiga hari. Sangat sulit bagi saya untuk pergi ke luar karena bisa terkena pelecehan."

  3. Situasi di Bagira: Beberapa penduduk di suburb Bagira melaporkan bahwa mereka melihat keberadaan pemberontak di jalanan tanpa adanya tanda-tanda pertempuran. Namun, sumber dari M23 dan beberapa pejabat Angkatan Bersenjata Kongo menegaskan bahwa pemberontak belum memasuki pusat kota.

  4. Risiko Konflik Regional: Pemerintah Kongo menuduh Rwanda berupaya menimbulkan kekacauan untuk mendapatkan keuntungan dari sumber daya alam di wilayah tersebut, yang selama ini menjadi silah utama dalam konflik berkepanjangan di timur DRC. Konflik di timur DRC telah berlanjut selama lebih dari 30 tahun, didorong oleh ketegangan yang berkaitan dengan genosida Rwanda tahun 1994.

  5. Dampak Kemanusiaan: Banyak pihak mengingatkan bahwa konflik ini memaksa ratusan ribu orang meninggalkan rumah mereka, menciptakan krisis pengungsi yang semakin mendesak. Bukavu, yang terletak di tepi selatan Danau Kivu, juga merupakan titik transit penting bagi perdagangan mineral lokal.

Dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik ini, persetujuan dan bantuan internasional menjadi jauh lebih mendesak. Pihak-pihak terkait diharapkan segera mengambil langkah-langkah untuk membantu menciptakan stabilitas dan meredakan ketegangan di wilayah yang telah lama dilanda konflik ini.

Hendrawan adalah penulis di situs spadanews.id. Spada News adalah portal berita yang menghadirkan berbagai informasi terbaru lintas kategori dengan gaya penyajian yang sederhana, akurat, cepat, dan terpercaya.

Berita Terkait

Back to top button