Internasional

Kehilangan Besar: Sam Nujoma, Presiden Pertama Namibia, Meninggal

Sam Nujoma, presiden pertama Namibia yang merdeka, telah meninggal dunia pada usia 95 tahun di ibu kota Windhoek. Pengumuman tersebut disampaikan oleh presiden saat ini, Nangolo Mbumba, yang menyatakan rasa duka mendalam atas kehilangan tokoh penting negara tersebut.

Sam Nujoma dikenal sebagai penggerak utama perjuangan kemerdekaan Namibia dari kekuasaan Afrika Selatan yang berlanjut hingga tahun 1990. Ia adalah pendiri gerakan pembebasan Namibia, yakni South West Peoples’ Organisation (Swapo), yang didirikan pada tahun 1960-an. Kemerdekaan Namibia yang diproklamirkan pada 21 Maret 1990 menandai era baru bagi negara tersebut. Setelah merdeka, Nujoma diangkat sebagai presiden dan memimpin Namibia hingga tahun 2005.

Dalam sebuah pernyataan yang menggambarkan kesedihan, Mbumba menjelaskan bahwa Nujoma telah dirawat di rumah sakit selama tiga minggu terakhir karena penyakit yang tak bisa ia sembuhkan. Ia mengungkapkan betapa besar inspirasi Nujoma bagi rakyat Namibia, yang "memberikan semangat untuk berdiri dan menjadi penguasa tanah leluhur mereka." Nujoma dikenang sebagai "bapak bangsa" dan seorang yang memberikan sumbangsih besar dalam penegakan kedamaian dan stabilitas di negara pasca-kemerdekaan.

Beberapa poin penting mengenai warisan Nujoma antara lain:

  1. Perjuangan untuk Kemerdekaan: Nujoma adalah sosok sentral dalam perjuangan kemerdekaan Namibia dari penjajahan Afrika Selatan yang berlanjut hingga tahun 1990.

  2. Kepemimpinan yang Panjang: Ia menjabat sebagai presiden selama 15 tahun, dari 1990 hingga 2005, sebelum pensiun tetapi tetap berperan sebagai pemimpin di partai Swapo hingga tahun 2007.

  3. Rekonsiliasi Nasional: Kebijakan rekonsiliasi Nujoma mendorong komunitas kulit putih untuk tetap berada di Namibia, memungkinkan mereka berkontribusi dalam sektor pertanian dan ekonomi negara.

  4. Advokasi untuk Perempuan dan Anak: Nujoma juga seorang pejuang hak asasi manusia, mempromosikan perlindungan bagi perempuan dan anak-anak, termasuk perlunya tanggung jawab ayah terhadap anak-anak yang lahir di luar nikah.

Respons masyarakat terhadap kematian Nujoma sangat emosional. Banyak warga Namibia mengenangnya dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang, menggambarkan dirinya sebagai "ayah bangsa" yang senantiasa berjuang demi kepentingan rakyat. Mbumba, dengan air mata, mengunjungi rumah Nujoma untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarganya, termasuk istri tercintanya, Kovambo Theopoldine Katjimune, yang berusia 91 tahun.

Reaksi tak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari pemimpin-pemimpin Afrika. Ketua Komisi Uni Afrika, Moussa Faki Mahamat, menyebut Nujoma sebagai "epitome keberanian" dan seorang pemimpin yang tidak pernah tergoyahkan dalam visinya untuk Namibia yang bebas serta Afrika yang bersatu.

Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, memuji Nujoma sebagai "pejuang kebebasan yang luar biasa" yang kontribusinya terasa tidak hanya untuk Namibia, tetapi juga bagi akhir pemerintahan minoritas kulit putih di Afrika Selatan pada tahun 1994. Sementara itu, Presiden Kenya, William Ruto, menilai Nujoma sebagai sosok visioner yang mengabdikan hidupnya untuk pembebasan dan pembangunan negaranya.

Hingga saat ini, informasi mengenai jadwal pemakaman Nujoma belum diumumkan. Namun, warisannya dalam membangun Namibia sebagai negara merdeka yang berdikari akan terus dikenang oleh generasi mendatang.

Hendrawan adalah penulis di situs spadanews.id. Spada News adalah portal berita yang menghadirkan berbagai informasi terbaru lintas kategori dengan gaya penyajian yang sederhana, akurat, cepat, dan terpercaya.

Berita Terkait

Back to top button