Imam Muslim Gay Pertama Tewas Di Afrika Selatan, Diduga Dibunuh

CAPE TOWN, Afrika Selatan — Muhsin Hendricks, yang dikenal sebagai imam Muslim gay pertama yang terbuka, telah dibunuh dengan cara yang sangat keji saat berada di dalam mobilnya di kota Gqeberha, Afrika Selatan. Penembakan ini terjadi pada hari Sabtu saat Hendricks diserang oleh dua pria yang menggunakan truk pikap. Polisi melaporkan bahwa wajah para pelaku penembakan tersebut tertutup. Sebuah video keamanan menunjukkan salah satu pelaku keluar dari kendaraan, mendekati mobil Hendricks, dan menembak beberapa kali melalui jendela samping.

Hingga saat ini, pihak kepolisian belum menemukan motif pasti di balik pembunuhan ini. Namun, banyak partai politik dan organisasi LGBTQ+ berpendapat bahwa Hendricks menjadi target karena perjuangannya untuk mendirikan masjid yang ramah bagi komunitas gay di Cape Town dan ajakannya agar anggota komunitas LGBTQ+ disambut dalam agama Islam. Dalam banyak ajaran Islam, homoseksualitas dianggap terlarang.

Kementerian Kehakiman Afrika Selatan telah mengonfirmasi bahwa mereka sedang menyelidiki dugaan bahwa Hendricks adalah sasaran pembunuhan terencana. Hendricks dikenal secara internasional, terutama setelah berbicara di konferensi International Lesbian, Gay, Bisexual, Trans and Intersex Association (ILGA) yang diadakan di Afrika Selatan pada tahun lalu. Julia Ehrt, direktur eksekutif ILGA, menyatakan bahwa komunitas mereka sangat terkejut dengan berita pembunuhan Hendricks dan mendesak pihak berwenang untuk melakukan penyelidikan yang menyeluruh, yang mereka khawatir bisa menjadi kejahatan kebencian.

Sebagai pencetus Al-Ghurbaab Foundation, Hendricks memberikan dukungan dan bimbingan kepada banyak individu yang berjuang untuk merekonsiliasi iman mereka dengan Orientasi seksual mereka. Dalam sebuah pernyataan di halaman resmi Facebook-nya, Al-Ghurbaab Foundation mengenang Hendricks sebagai “seorang ayah yang hebat dan penjaga banyak jiwa.”

Hendricks, yang secara terbuka mengakui orientasi seksualnya sebagai seorang imam pada pertengahan 1990-an, telah membangun jaringan dukungan dan kemudian mendirikan masjid untuk Muslim gay. Ia melanjutkan perjuangannya untuk inkulusi melalui Yayasan Al-Ghurbaab dan menggambarkan dirinya sebagai “imam queer terbuka pertama di dunia.” Dalam sebuah wawancara, Hendricks menyatakan, “Ketika saya melihat cara orang-orang yang queer berusaha menegosiasikan dilema ini antara Islam dan orientasi serta identitas seksual mereka, saya merasa tergerak untuk melakukan sesuatu.”

Berbagai kelompok politik dan masyarakat sipil mengeluarkan pernyataan mengikuti tragedi ini. Partai Demokratik, partai politik terbesar kedua di Afrika Selatan, mengklaim bahwa “sifat pembunuhan ini sangat menunjukkan adanya penghilangan nyawa yang profesional.” Di sisi lain, Majelis Yudisial Muslim Afrika Selatan mengungkapkan bahwa meskipun mereka secara konsisten menyatakan bahwa posisi Hendricks bertentangan dengan ajaran Islam, mereka dengan tegas mengutuk pembunuhannya dan segala bentuk kekerasan yang menargetkan anggota komunitas LGBTQ+ atau komunitas lainnya.

Kematian Muhsin Hendricks menggambarkan konflik yang mendalam yang dialami oleh komunitas LGBTQ+ dalam konteks agama dan budaya. Kehilangannya tidak hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan teman dekatnya, tetapi juga menandai kehilangan seorang pemimpin yang berusaha untuk menjembatani kesenjangan antara iman dan identitas seksual di masyarakat yang masih terpecah. Hendricks dikenang sebagai sosok yang berani dalam perjuangannya demi inklusi, menciptakan ruang bagi mereka yang seringkali terpinggirkan dalam masyarakat agama.

Exit mobile version