
Para ilmuwan di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) sedang berada di garis depan untuk memperbarui skala cuaca luar angkasa yang telah dianggap usang dan membingungkan. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap fenomena cuaca luar angkasa, mereka berupaya menghadirkan sistem yang lebih jelas dan informatif bagi masyarakat serta para pengguna kritis.
Cuaca luar angkasa, mirip dengan sistem klasifikasi yang ada untuk badai seperti badai angin atau tornado, memiliki tipologi sendiri. Fenomena ini dikategorikan menjadi tiga jenis utama: badai geomagnetik, badai radiasi matahari, dan pemadaman radio. Klasifikasi ini dirancang untuk menjelaskan dampak yang mungkin ditimbulkan oleh fluktuasi pada matahari, termasuk kemungkinan terjadinya peristiwa tertentu dan intensitas dari setiap kategori yang dinilai pada skala 1 hingga 5.
Skala yang ada saat ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 1999, saat penelitian mengenai cuaca luar angkasa mulai menjamur. Namun, momen-momen penting seperti badai matahari Halloween pada tahun 2003 dan peristiwa Gannon pada Mei 2024 telah mengungkapkan bahwa informasi di dalam skala tersebut sudah tidak lagi relevan dan membuat masyarakat bingung. Bill Murtagh, koordinator program SWPC, mengatakan bahwa kesulitan dalam memahami terminologi cuaca luar angkasa perlu diatasi.
Dalam upaya revisi tersebut, SWPC bekerja sama dengan National Weather Service dan IDA Science and Technology Policy Institute (STPI) untuk mengumpulkan masukan dari berbagai pemangku kepentingan terkait. Sebanyak hampir 500 individu dari hampir 200 sesi diskusi baik domestik maupun internasional telah memberikan umpan balik yang berharga. Laporan hasil feedback ini kemudian disampaikan pada pertemuan tahunan American Meteorological Society (AMS) di bulan Januari.
Murtagh menekankan bahwa proses tersebut kini berada di fase kedua, di mana umpan balik yang diterima akan digunakan untuk mengambil keputusan penting mengenai perubahan mana yang perlu segera diimplementasikan. Penekanan akan diberikan pada cara terbaik untuk mengkomunikasikan dampak cuaca luar angkasa kepada pengguna akhir dan masyarakat umum. Untuk itu, STPI akan memberikan laporan terperinci ke NOAA, termasuk beberapa opsi revisi yang dapat dipertimbangkan.
Rencana ke depan meliputi fase yang lebih besar, yang diharapkan menghasilkan implementasi nyata dari perubahan yang diusulkan. Ini termasuk definisi baru untuk produk yang dihasilkan serta kemungkinan pembuatan layanan berlangganan yang dapat memberi informasi kepada pengguna tentang pembaruan yang akan datang.
Beberapa perubahan yang dibahas mencakup penghapusan istilah deskriptif di setiap kategori, yang bisa berbeda pengertiannya bagi tiap orang. Misalnya, kategori G5 “ekstrem” dapat memiliki arti yang beragam tergantung pada teknologi yang digunakan dan lokasi pengguna berada. Terdapat pula kebutuhan untuk mendistingsi antara badai G5 dengan G5+, di mana peristiwa Gannon dikategorikan sebagai G5, tetapi dampaknya tidak sebanding dengan peristiwa luar biasa lainnya seperti “Carrington Event” pada tahun 1859.
Upaya untuk memodernisasi sistem ini sangat penting mengingat saat ini kita berada di masa solar maksimum, di mana aktivitas matahari meningkat. Hal ini juga menuntut alokasi waktu dan sumber daya yang cukup untuk implementasi perubahan yang signifikan, dengan fokus pada langkah-langkah yang dapat diambil dalam waktu dekat yang dapat memberikan manfaat nyata bagi para pengguna.
Melalui kerja sama antara NOAA, STPI, dan berbagai pemangku kepentingan, harapan untuk meningkatkan pemahaman akan cuaca luar angkasa dan melindungi infrastruktur kritis semakin mendekati kenyataan. Upaya pengembangan skala cuaca luar angkasa yang lebih efektif diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih jelas dan bermanfaat bagi masyarakat secara luas.