Kesehatan

Crab Mentality: Gangguan Psikologi Kekinian #KaburAjaDulu

Gerakan #KaburAjaDulu yang muncul di kalangan masyarakat Indonesia merupakan respon atas kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan sektor pendidikan dan penciptaan lapangan kerja. Tagar ini menjadi viral di media sosial, menggambarkan keinginan banyak individu untuk mencari peluang lebih baik di luar negeri. Namun, kemunculan gerakan ini juga menciptakan berbagai reaksi di kalangan diaspora, dengan beberapa di antaranya memberikan kritik yang mengarah pada kesulitan hidup di negara asing. Reaksi negatif terhadap tagar ini mengandung unsur yang disebut sebagai Crab Mentality, sebuah gangguan psikologis yang menghambat kemajuan individu.

Crab Mentality, atau mentalitas kepiting, merujuk pada fenomena psikologis di mana seseorang merasa tidak nyaman dengan pencapaian orang lain. Analoginya dapat dilihat dari sekelompok kepiting dalam ember: ketika satu kepiting mencoba untuk keluar, kepiting-kepiting lain akan menariknya kembali, bukan membantu. Dalam konteks ini, perilaku yang terlihat sebagai solidaritas bisa menjadi tindakan merugikan dengan tujuan untuk mempertahankan status quo daripada membantu individu itu untuk tumbuh dan berkembang.

Ciri-ciri seseorang yang terjangkit Crab Mentality tergolong mudah untuk dikenali. Menurut MMC Hospital, ada beberapa tanda yang menjadi indikator, antara lain:

1. Memiliki perasaan iri yang tinggi terhadap kesuksesan orang lain.
2. Menganggap orang lain tidak boleh lebih baik dari dirinya.
3. Kerap berkomentar meremehkan dan menyalahkan orang lain.
4. Merasa kesal ketika melihat keberhasilan orang lain.
5. Terus beranggapan buruk terhadap pencapaian orang lain.
6. Memiliki rasa kompetitif yang berlebihan, sering kali berpikir negatif.
7. Mengira bahwa kesuksesan orang lain hanya berkat keberuntungan atau privilege.
8. Beranggapan bahwa usaha orang lain tidak layak dihargai.

Dampak dari Crab Mentality tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi juga korban dari perilaku tersebut. Bagi individu yang beraksi dengan mentalitas ini, mereka cenderung mengalami ketidaknyamanan dan tidak mampu menjalani hidup dengan penuh ketulusan. Sering kali, hal ini berujung pada lebih sedikit pencapaian karena fokus pada kegagalan orang lain. Sebaliknya, korban dari Crab Mentality biasanya mengalami kesulitan dalam mengakses kesempatan yang sama, mengakibatkan ketidakpuasan dan frustrasi dalam perkembangan pribadi mereka.

Dalam konteks gerakan #KaburAjaDulu, fenomena Crab Mentality dapat menonjol ketika individu yang merasa terancam oleh gerakan tersebut menyampaikan kritik tanpa memberikan solusi konstruktif. Mereka yang mendukung #KaburAjaDulu tidak hanya mencari kesempatan lebih baik, tetapi juga berusaha untuk meluapkan pendapat terhadap situasi di tanah air agar didengar dan diperhatikan. Namun, jawaban negatif dari segelintir orang justru membuat situasi semakin rumit.

Dengan semakin banyaknya individu yang mengenali tanda-tanda Crab Mentality di lingkungan sekitar mereka, sebagai masyarakat, kita diharapkan untuk lebih mendukung satu sama lain daripada menjatuhkan. Mendorong semangat kolaborasi dan peningkatan diri bisa adalah antidot yang kuat terhadap sikap negatif ini. Tindakan saling mendukung akan memberikan efek positif yang lebih signifikan dibandingkan dengan mengedepankan rasa iri dan ketidakpuasan.

Masyarakat perlu dibekali pengetahuan tentang dampak negatif dari Crab Mentality agar kita dapat menerapkan sikap yang lebih positif dan inklusif. Kesadaran ini diharapkan dapat memicu partisipasi aktif dari semua pihak untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, sekaligus mendorong individu untuk melampaui batasan diri mereka.

Hendrawan adalah penulis di situs spadanews.id. Spada News adalah portal berita yang menghadirkan berbagai informasi terbaru lintas kategori dengan gaya penyajian yang sederhana, akurat, cepat, dan terpercaya.

Berita Terkait

Back to top button