PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) optimis bahwa penghimpunan simpanan atau dana pihak ketiga (DPK) akan mengalami pertumbuhan yang signifikan pada tahun 2025. Bank Danamon menargetkan pertumbuhan DPK di rentang 10% hingga 15%, yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan DPK industri perbankan secara keseluruhan. Optimisme ini diungkapkan oleh Ivan Jaya, Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon, dalam sebuah acara di Jakarta.
Dalam menghadapi tantangan perekonomian yang membebani sektor perbankan, Bank Danamon merancang berbagai pendekatan untuk mencapai target pertumbuhan yang ambisius ini. "Target growth DPK-nya di atas double digit, antara 10%-15%. Lebih tinggi dari industri," kata Ivan ketika ditemui di Indonesia International Motor Show (IIMS) 2025. Pernyataan ini menunjukkan kepercayaan diri manajemen Bank Danamon dalam merebut pangsa pasar simpanan di tengah persaingan yang ketat.
Salah satu tantangan utama yang dihadapi oleh Bank Danamon dalam penghimpunan DPK adalah peningkatan penerbitan surat utang negara oleh pemerintah. Hal ini turut memengaruhi ketersediaan dana di pasar sekaligus menciptakan alternatif investasi bagi masyarakat. Meski demikian, Ivan menyatakan bahwa Bank Danamon sedang merumuskan strategi inovatif untuk menarik simpanan masyarakat.
Berikut adalah beberapa strategi yang akan diterapkan oleh Bank Danamon untuk meningkatkan DPK:
-
Pengembangan Produk Berbasis Transaksi: Bank Danamon tidak hanya berfokus pada suku bunga tinggi untuk menarik nasabah, tetapi lebih pada pengembangan produk yang menawarkan solusi transaksi yang mudah dan menguntungkan bagi nasabah.
-
Peningkatan Marketing Awareness: Melalui program-program promosi dan undian, Bank Danamon berupaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai berbagai produk simpanan yang ditawarkan.
- Peningkatan Rasio CASA: Bank Danamon menargetkan rasio current account saving account (CASA) sebesar 55% dari keseluruhan simpanan. Peningkatan rasio CASA ini dimaksudkan untuk meningkatkan dana murah yang dimiliki oleh bank, di mana rasio tersebut mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun lalu.
Meskipun secara industri Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa DPK perbankan tumbuh hanya 4,48% YoY per Desember 2024, Danamon tetap percaya diri akan keberhasilan strategi yang diterapkan. Bank Indonesia (BI) juga memberikan catatan bahwa laju pertumbuhan DPK berpotensi melambat pada kuartal I tahun 2025. Hal ini berdasarkan survei perbankan yang menunjukkan penurunan signifikan dalam Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk berbagai jenis instrumen simpanan.
Namun, BI memperkirakan bahwa pertumbuhan DPK akan lebih baik di tahun ini dibandingkan dengan tahun 2024. Proyeksi mengenai DPK diperkirakan mencapai SBT 99,6% untuk tahun 2025, lebih baik dibandingkan dengan 89,3% tahun lalu. Hal ini menunjukkan harapan bahwa kondisi ekonomi akan membaik, dan bank-bank di Indonesia, termasuk Bank Danamon, dapat memanfaatkan momentum tersebut untuk meningkatkan simpanan.
Sementara itu, Ivan Jaya menekankan bahwa fokus utama mereka adalah mengembangkan produk-produk yang responsif terhadap kebutuhan nasabah, serta mendorong pertumbuhan CASA, yang menjadi bagian penting dari strategi penghimpunan dana. "Di sini memang pertumbuhan CASA atau tabungan, terutama kalau dari sisi konsumer itu merupakan salah satu fokus kami," tuturnya.
Dengan strategi-strategi yang tengah dijalankan, Bank Danamon menunjukkan bahwa mereka tidak hanya berfokus pada pertumbuhan angka, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan nasabah. Hal ini diharapkan dapat membawa Bank Danamon semakin dekat dengan target penghimpunan simpanan yang diimpikan, meskipun tantangan dan dinamika pasar tetap harus dihadapi dengan penuh kewaspadaan dan inovasi.