Sains

Apple Maps Bakal Tiru Google: Teluk Meksiko Jadi Teluk Amerika!

Apple Maps segera mengikuti jejak Google Maps dengan mengubah nama Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika. Langkah ini muncul sebagai respons terhadap perintah eksekutif yang dikeluarkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang secara resmi menetapkan perubahan nama tersebut. Sesuai laporan dari Bloomberg pada Rabu (12/2/2025), pengguna Apple yang berada di AS diharapkan dapat melihat nama “Teluk Amerika” dalam waktu dekat, sementara peluncuran di negara lain akan menyusul.

Perubahan ini berusaha untuk menyelaraskan nama geografis yang digunakan oleh perusahaan teknologi terbesar di dunia. Google telah lebih dulu mengimplementasikan perubahan serupa, yang memungkinkan pengguna di AS melihat nama “Teluk Amerika”, sementara pengguna di Meksiko tetap melihat nama asli “Teluk Meksiko”. Untuk pengguna di negara lain, mereka memperoleh informasi tentang kedua nama tersebut secara bersamaan.

Pendekatan ini mengikuti informasi yang dikeluarkan oleh Google. Dalam sebuah pernyataan, perusahaan mencatat, “Nama teluk yang ditampilkan di aplikasi kami akan bergantung pada lokasi pengguna,” mengisyaratkan bahwa setiap negara memiliki preferensi nama tersendiri. Penggantian nama ini juga berkaitan dengan Geographic Names Information System (GNIS), sebuah basis data yang dikelola oleh US Geological Survey, yang menjadi acuan dalam penamaan geografis di AS.

Perubahan nama bukanlah hal baru dalam konteks kebijakan publik. Sebelumnya, Google juga mengumumkan perubahan nama Gunung Denali di Alaska kembali menjadi Gunung McKinley sesuai dengan perintah eksekutif yang sama. Keputusan ini diambil untuk menghormati mantan Presiden William McKinley, yang dibunuh pada tahun 1901, meskipun terdapat sejarah panjang pemakaian nama asli yang diberikan oleh masyarakat adat Koyukon.

Beragam pendapat mengenai perubahan ini muncul dari berbagai pihak. Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, merespons kebijakan tersebut dengan mengirim surat kepada Google, meminta perusahaan untuk mempertimbangkan kembali keputusan tersebut. Dalam suatu cuitan yang terkenal, Sheinbaum secara sarkastik mengusulkan agar Amerika Utara diganti menjadi “Mexican America”, sebuah referensi terhadap dokumen sejarah yang menunjukkan keterkaitan antara kedua negara.

Keputusan Donald Trump untuk memperkenalkan perubahan nama beberapa fitur geografis di AS tidak lepas dari kritik. Kelompok masyarakat adat di Alaska menilai tindakan itu sebagai pengabaian terhadap sejarah dan budaya asli yang harus dihormati. Efek dari perubahan ini pun akan berdampak luas, mengingat peran Apple dan Google dalam penyebaran informasi geografis secara global.

Dengan langkah-langkah yang diambil oleh Apple dan Google, ada kemungkinan bahwa pengguna aplikasi peta di seluruh dunia akan mulai beradaptasi dengan perubahan tersebut. Di tengah respon positif dan negatif, pertanyaan besar tetap ada: siapa yang berhak menentukan nama geografis, dan bagaimana cara terbaik untuk menghormati warisan budaya yang telah ada?

Sementara itu, implementasi perubahan ini menunjukkan betapa pentingnya pemahaman konteks geografis dan budaya dalam era digital saat ini. Dalam dunia yang semakin terhubung ini, keputusan yang diambil oleh perusahaan-perusahaan teknologi menjunjung tinggi nama dan identitas. Pengguna kini dihadapkan pada kenyataan bahwa peta yang mereka gunakan sehari-hari bukan hanya alat navigasi, tetapi juga cermin dari dinamika politik dan sosial yang lebih besar.

Hendrawan adalah penulis di situs spadanews.id. Spada News adalah portal berita yang menghadirkan berbagai informasi terbaru lintas kategori dengan gaya penyajian yang sederhana, akurat, cepat, dan terpercaya.

Berita Terkait

Back to top button