Bisnis

Ancang-Ancang Raupan Cuan Superbank Menjelang IPO 2023

PT Super Bank Indonesia (Superbank) sedang bersiap-siap untuk melantai di bursa dengan rencana penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) yang bakal dilaksanakan dalam waktu dekat. Meskipun memiliki ambisi besar untuk go public, perjalanan Superbank tidaklah mulus. Data terbaru menunjukkan bahwa bank digital hasil kolaborasi antara Grab dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) ini mengalami kerugian yang cukup signifikan.

Dalam laporan keuangannya, Superbank mencatatkan kerugian sebesar Rp285,74 miliar pada kuartal ketiga tahun 2024. Angka ini mencerminkan peningkatan 12,17% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan dengan kerugian Rp254,74 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski begitu, Superbank mencatatkan pertumbuhan yang mencolok dalam hal pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang melesat 99,56% YoY menjadi Rp399,01 miliar. Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) juga menunjukkan peningkatan, naik 100 basis poin menjadi 7,81%.

Namun, beban penurunan nilai aset keuangan yang mencatatkan kenaikan 78,52% YoY juga memberikan dampak negatif, yang kini mencapai Rp75,39 miliar. Selain itu, pos beban lainnya juga mengalami lonjakan. Beban tenaga kerja meningkat 13,9% menjadi Rp321,9 miliar, dan beban lain-lain naik 65,01% menjadi Rp239,47 miliar.

Tigor M. Siahaan, Presiden Direktur Superbank, menjelaskan bahwa kerugian yang dialami perusahaan merupakan bagian dari fase pengembangan platform yang dilakukan selama dua tahun terakhir. Ia optimis bahwa dengan adanya peluncuran produk baru, kinerja perusahaan akan membaik. “Progresnya baik, karena memang selama dua tahun pertama ini pengembangan teknologi platform, people, dan lain sebagainya, serta belum ada launching,” tuturnya. Tigor menambahkan, setelah peluncuran produk-produk baru, ia berharap traction nasabah akan semakin meningkat yang pada akhirnya membawa perusahaan ke arah profitabilitas.

Terkait kabar IPO, Tigor menyatakan bahwa fokus utama Superbank saat ini adalah memperkuat ekosistem digital dan mendalami layanan untuk nasabah. “Kami sekarang konsentrasi karena tahun lalu, Juni 2024 itu traction ekosistem baik, kami masih fokus ke sana,” ujarnya. Selain itu, Superbank juga menjalankan integrasi produk dengan entitas lainnya seperti Grab dan OVO.

Seperti yang diungkapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini belum ada bank digital yang resmi mengajukan permohonan untuk melakukan IPO. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyatakan bahwa banyak bank digital yang masih dalam tahap persiapan. “Mungkin mereka masih juga sedang melakukan persiapan,” katanya. OJK berkomitmen untuk memastikan bahwa proses IPO dilakukan hanya oleh bank yang kredibel dan memberikan keuntungan bagi investor.

Berdasarkan informasi yang beredar, Superbank dikabarkan mengincar nilai penawaran saham senilai US$200 juta hingga US$300 juta atau sekitar Rp3,25 triliun hingga Rp4,88 triliun. Dengan valuasi yang ditargetkan antara US$1,5 miliar hingga US$2 miliar, langkah IPO ini diharapkan dapat memberikan suntikan dana yang signifikan bagi pengembangan perusahaan.

Superbank, yang sebelumnya dikenal sebagai PT Bank Fama International, telah melakukan transformasi menjadi bank digital dengan nama baru seiring dengan investasi dari EMTK. Saat ini, porsi saham terbesar Superbank dikuasai oleh EMTK melalui PT Elang Media Visitama, yang memegang 31,27% saham.

Seiring dengan berita IPO dan kinerja yang masih berjuang untuk kembali ke jalur profitabilitas, banyak yang menantikan perkembangan selanjutnya dari Superbank. Terlepas dari tantangan yang ada, ambisi untuk memperkuat ekosistem digital serta melakukan IPO dapat menjadi langkah strategis dalam mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan di masa depan.

Hendrawan adalah penulis di situs spadanews.id. Spada News adalah portal berita yang menghadirkan berbagai informasi terbaru lintas kategori dengan gaya penyajian yang sederhana, akurat, cepat, dan terpercaya.

Berita Terkait

Back to top button